Irfan Hakim Dukung Eco EduFarm, Gerakan Kelola Sampah Warga Malaka Jaya Jadi Inspirasi Nasional

Tokoh publik Irfan Hakim menyerahkan Tong Komposter Ksatria Nusantara kepada warga RT 8 RW 4 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, sebagai dukungan terhadap gerakan pengelolaan sampah rumah tangga berbasis komunitas dan ekonomi sirkular. (Foto: Ist)
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang digagas warga RT 8 RW 4 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, kini berkembang pesat dan menjadi contoh nyata praktik pengelolaan lingkungan di tingkat komunitas.

Inisiatif ini tidak hanya fokus pada pengurangan sampah rumah tangga, tetapi juga menggabungkan berbagai program ramah lingkungan seperti produksi pangan komunitas, edukasi lingkungan, hingga penguatan ketahanan energi masyarakat.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Gerakan tersebut mendapat dukungan dari tokoh publik yang baru-baru ini mengunjungi kawasan tersebut. Dalam kunjungannya, ia menyerahkan Tong Komposter Ksatria Nusantara kepada warga sebagai bagian dari upaya mendorong pengolahan sampah organik langsung di tingkat rumah tangga.

Sebanyak 60 unit komposter kini dimanfaatkan oleh warga untuk mengolah sampah organik dari rumah masing-masing. Dengan cara ini, sampah tidak lagi menjadi beban lingkungan yang harus dibuang ke , yang selama ini menjadi lokasi utama pembuangan sampah dari Jakarta.

Melalui teknologi komposter tersebut, setiap rumah mampu mengolah hingga sekitar 55 kilogram sampah organik dalam satu siklus, meningkat signifikan dibandingkan kapasitas sebelumnya yang hanya sekitar 26,5 kilogram.

Program pengomposan yang awalnya hanya dilakukan di RT 8 kini mulai berkembang ke wilayah sekitar. Beberapa unit komposter juga disalurkan ke wilayah tetangga seperti RT 7 RW 4 Malaka Jaya, RT 10 RW 4 Malaka Jaya, serta RT 6 RW 5 Malaka Jaya.

Langkah ini membuat gerakan pengelolaan sampah tidak lagi terbatas pada satu lingkungan kecil, tetapi mulai berkembang menjadi gerakan kawasan yang melibatkan lebih banyak warga.

Ketua RT 8 RW 4 Malaka Jaya, Dr. Taufiq Supriadi, menjelaskan bahwa berbagai kegiatan tersebut merupakan bagian dari penerapan Model Eco EduFarm Indonesia, yaitu sistem terpadu berbasis ekonomi sirkular yang menggabungkan pengelolaan sampah, produksi pangan komunitas, dan ketahanan energi lingkungan.

“Model ini bahkan telah memperoleh pencatatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari ,” ujar Taufiq dalam keterangannya, Jumat (13/3/2026).

Menurut Taufiq, konsep Eco EduFarm sebenarnya dapat diterapkan secara luas di wilayah yang memiliki lahan besar, seperti kawasan pesantren atau daerah pedesaan.

Namun di kawasan perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Jakarta, konsep tersebut perlu disesuaikan agar tetap efektif.

“Di wilayah padat seperti Jakarta, kami menerjemahkan konsep ini dalam skala rumah tangga. Tujuannya agar sampah bisa selesai di rumah dan memiliki nilai tambah dalam ekonomi sirkular warga,” jelasnya.

Selain program pengomposan sampah organik, warga juga mengembangkan sejumlah inovasi lingkungan lainnya.

Beberapa di antaranya meliputi pembangunan lubang resapan biopori, budidaya ikan di saluran U-ditch, serta program edukasi lingkungan bagi anak-anak dan masyarakat.

Inisiatif ini tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga mulai menghadirkan dampak sosial bagi masyarakat setempat.

Saat ini tercatat setidaknya enam warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan kini ikut terlibat dalam kegiatan pengelolaan lingkungan dan produksi komunitas.

Menariknya, gerakan lingkungan yang berawal dari satu lingkungan kecil ini kini mulai menarik perhatian banyak pihak dari berbagai daerah di Indonesia.

Hingga saat ini, lebih dari 1.000 pengunjung telah datang ke kawasan RT 8 Malaka Jaya untuk mempelajari praktik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat tersebut.

Para pengunjung berasal dari berbagai kalangan, mulai dari komunitas lingkungan, akademisi, hingga pemerintah daerah yang ingin mengadopsi model serupa di wilayah mereka.

Ke depan, warga RT 8 Malaka Jaya juga berencana mengembangkan berbagai fasilitas lingkungan tambahan guna memperkuat ketahanan komunitas.

Beberapa rencana tersebut antara lain pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunitas serta pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan energi di tingkat masyarakat.

Taufiq menegaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ketahanan komunitas terhadap potensi krisis lingkungan di masa depan.

“Jika setiap lingkungan kecil mampu mengolah sampahnya sendiri, memproduksi sebagian pangannya, dan memanfaatkan energi terbarukan, maka ketahanan lingkungan Indonesia sebenarnya bisa dimulai dari tingkat komunitas,” ujarnya.

Gerakan yang lahir dari lingkungan kecil di Jakarta Timur ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak wilayah lain di Indonesia untuk mengembangkan model pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang berkelanjutan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.