Foto istimewa.
TEHERAN, Radarjakarta.id – Dunia kembali dicekam ketegangan setelah Iran membantah klaim Israel yang menyebut Jenderal Ali Shadmani tewas dalam serangan udara pekan lalu. Sosok kuat di lingkar dalam Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei itu dinyatakan masih hidup dan kini tengah menjalani pemulihan setelah mengalami luka serius akibat serangan yang menghantam markas IRGC di Teheran.
“Saya masih hidup dan siap mengorbankan diri demi negara,” ujar Shadmani dalam pernyataan resmi yang dikutip media Iran, Tasnim News dan Fars News, media yang dekat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC).
Sebelumnya, Israel mengklaim telah menewaskan Shadmani hanya lima hari setelah ia diangkat sebagai komandan baru IRGC, menggantikan pendahulunya yang juga gugur dalam serangan udara Israel pada 13 Juni. Serangan presisi ini diklaim dilakukan berdasarkan intelijen dari unit elit militer Israel, Defence Forces Intelligence Branch.
Israel meluncurkan gelombang serangan masif ke berbagai wilayah strategis Iran dalam operasi besar yang disebut “Operasi Rising Lion”. Fasilitas nuklir, gudang rudal balistik, hingga permukiman warga sipil menjadi sasaran. Sedikitnya puluhan orang, termasuk anak-anak dan pejabat militer senior Iran, dilaporkan tewas.
Iran merespons keras. Ratusan roket dan rudal balistik ditembakkan ke pangkalan militer dan kota-kota besar Israel. Langit Timur Tengah kembali memerah. Suara sirine dan ledakan menggetarkan kawasan, memicu kepanikan warga sipil dan kekhawatiran internasional.
Dunia Cemas: Perang Regional Bisa Meletus
Ketegangan ini memicu alarm global. Amerika Serikat, Rusia, hingga negara-negara Uni Eropa menyerukan de-eskalasi. Namun, kedua pihak menunjukkan sikap tak mundur. Israel menyatakan akan terus menarget tokoh-tokoh kunci dalam program nuklir Iran yang disebut “mengancam eksistensi negara Yahudi”.
Sementara itu, Iran menganggap serangan ke wilayah mereka sebagai deklarasi perang terbuka.
“Setiap darah yang tumpah akan dibayar mahal,” ujar juru bicara militer Iran.
Konflik bersenjata ini memicu kekhawatiran akan potensi pecahnya perang kawasan di Timur Tengah, bahkan berimbas pada stabilitas ekonomi dan politik global. Harga minyak mentah naik tajam, mata uang negara berkembang terguncang, dan pasar saham internasional diliputi ketidakpastian.***










