IKWI Kunjungi Keraton Kaibon di Banten Lama

banner 468x60

SERANG, Radarjakarta.id – Di tengah reruntuhan bangunan bersejarah, Keraton Kaibon berdiri sebagai saksi bisu masa lalu Kesultanan Banten. Terletak di Kampung Kroya, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Serang, keraton ini bukan sekadar bangunan tua melainkan simbol keibuan, religiusitas, dan strategi arsitektur Islam yang mengagumkan.

Dibangun pada 1815 oleh Sultan Syafiuddin, keraton ini diperuntukkan bagi ibunda Sultan, Ratu Aisyah. Nama “Kaibon” sendiri berasal dari kata “Keibuan”, menggambarkan kasih sayang dan kelembutan seorang ibu yang dijadikan pondasi spiritual keraton, ungkap Shella d

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Deariska tenaga ahli Dinas Komunikasi, Informatik (Diskominfo) Provinsi Banten saat memandu wisata rombongan IKWI, Minggu (8/2).

“Saat itu, Sultan Syafiuddin masih berusia lima tahun, sehingga Keraton Kaibon sekaligus menjadi pusat kekuasaan ibu raja yang menuntun kerajaan,” tambahnya.

Sejarah mencatat, keraton ini dihancurkan Belanda pada 1832 setelah insiden tragis antara Sultan Syafiuddin dan Du Puy, utusan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Penolakan Sultan terhadap pembangunan pelabuhan Belanda memicu kemarahan kolonial, yang menghancurkan Keraton Kaibon, berbeda dengan Keraton Surosowan yang rata dengan tanah. 

Namun, sebagian struktur Kaibon masih berdiri, terutama Pintu Paduraksa khas Bugis dan deretan candi bentar yang menyimbolkan lima rukun Islam.

Keunikan arsitektur keraton ini luar biasa. Bangunan inti sebenarnya adalah masjid megah, dikelilingi kanal air yang membuat seluruh kompleks seolah terapung. Setiap jalan masuk menuju keraton melewati jalur air, menghubungkan ke laut memberikan kesan keagungan dan keindahan yang sulit ditandingi. 

Salah satu ruangan, diduga kamar Ratu Aisyah, menjorok ke dalam tanah untuk memanfaatkan aliran air sebagai pendingin alami. Pilar-pilar dan balok kayu masih terlihat, menunjukkan kecanggihan konstruksi masa lalu.

Bagi Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI), kunjungan ke Keraton Kaibon bukan sekadar perjalanan wisata sejarah. 

Ketua IKWI Jakarta, Ernawati, mengungkapkan pengalaman spiritual yang mendalam. “Melihat Keraton ini, kita terdorong untuk belajar lebih banyak, menghargai sejarah, dan merenungkan makna hidup. Khususnya pada bagian keislaman, kita merasakan kedekatan dengan nilai religius dan kesan sakral,” ujarnya, Minggu (8/2).

Meski reruntuhan, keindahan Keraton Kaibon tetap tersaji dalam siluet batu bata yang tersorot sinar senja, menampilkan kemegahan masa lalu yang klasik dan jelita. 

Dari sisa-sisa sejarah ini, pengunjung diajak memaknai bahwa keindahan dan hikmah dapat ditemukan dari berbagai sudut pandang sebuah pelajaran spiritual yang tak ternilai.

Sebagai cagar budaya Provinsi Banten, Keraton Kaibon kini menjadi saksi bisu sejarah Banten Lama, simbol keibuan dan nilai religius, serta destinasi penting bagi mereka yang ingin menghayati perjalanan spiritual dan sejarah Islam di Indonesia.|Hartatik*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.