HUT ke-17 KAI: Momentum Memuliakan Profesi Advokat

banner 468x60

RADAR JAKARTA|Jakarta — Kongres Advokat Indonesia (KAI) menandai hari jadinya yang ke-17 dengan sebuah pernyataan bersejarah: mengusulkan Adnan Buyung Nasution sebagai Pahlawan Nasional. Gagasan ini disampaikan langsung oleh Presiden KAI, Dr. Nasrullah Nawawi, SH., MH., MM., CRA., dalam perayaan megah yang digelar di Hotel Ciputra, Jakarta Barat, Jumat (30/5) malam.

Disaksikan oleh tokoh hukum,ratusan advokat, jurnalis, dan perwakilan lembaga negara, usulan ini sontak menjadi sorotan utama dalam perayaan tersebut. Dalam pidatonya, Nasrullah menegaskan bahwa sudah saatnya Indonesia memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada tokoh-tokoh hukum yang berjasa besar dalam penegakan keadilan pascakemerdekaan.

“Adnan Buyung bukan hanya advokat, dia ikon perjuangan hukum yang konsisten membela rakyat kecil dan menegakkan demokrasi. Sudah waktunya beliau diakui sebagai Pahlawan Nasional,” tegas Nasrullah, yang mendapat tepuk tangan panjang dari hadirin.

Bukan Sekadar Seremoni

Peringatan HUT ke-17 KAI bukan sekadar seremoni, melainkan momentum konsolidasi advokat se-Indonesia. Dalam acara tersebut, dilakukan pelantikan pengurus baru DPD KAI DKI Jakarta untuk periode 2025–2030, sekaligus pengangkatan 20 advokat muda yang telah lulus PKPA dan UKDPA.

Turut hadir dalam momen penting ini sejumlah tokoh nasional seperti Sekjen PWI Pusat Wina Armada, SH., MH., Ketua Dewan Penasehat KAI Erman Umar, SH., Ketua Dewan Kehormatan Aprillia Supaliyanto MS, SH., MM., CLA., dan Dirjen Pelayanan dan Kepatuhan HAM Kemenkumham RI Munafrizal Manan.

Advokat Bukan Kambing Hitam

Nasrullah juga angkat bicara mengenai stigma negatif terhadap profesi advokat. Ia menyayangkan bahwa dalam kasus-kasus hukum yang viral, advokat kerap dijadikan sasaran utama kritik.

“Ketika terjadi praktik mafia hukum, advokat sering kali jadi kambing hitam. Padahal, masalahnya menyangkut integritas hakim, jaksa, hingga sistem peradilan itu sendiri,” ujarnya.

Dari Panggung Sastra hingga Seruan Moral

Momen haru dan reflektif hadir saat Sekjen PWI Pusat Wina Armada membacakan dua puisi bertema perjuangan hukum berjudul Pacul dan Martil. Ia juga menyerahkan buku karyanya kepada jajaran pengurus KAI sebagai simbol sinergi antara dunia pers dan advokat.

Sebagai wujud apresiasi, Presiden KAI menyerahkan cinderamata kepada Wina Armada dan Dirjen Munafrizal Manan atas kontribusi mereka dalam menjembatani komunikasi antarprofesi yang sehat dan konstruktif.

Perayaan dengan Makna

Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan KAI selama 17 tahun. Acara ditutup dengan ramah tamah dan hiburan musik dari artis lawas yang turut memeriahkan suasana.

Tidak berhenti di sini, KAI juga akan menggelar seminar nasional dan FGD bertema “Menakar Tokoh-Tokoh Hukum Layak Pahlawan Nasional”, sebagai kelanjutan konkret dari misi menjadikan Adnan Buyung Nasution sebagai ikon kehormatan nasional.

Usulan menjadikan Adnan Buyung Nasution sebagai Pahlawan Nasional bukan hanya langkah simbolis, tapi juga pernyataan moral bahwa perjuangan dalam ranah hukum adalah bagian dari perjuangan kebangsaan. Sudah waktunya Indonesia memberi tempat layak bagi para pejuang keadilan dalam sejarahnya. (*)

 

Bacaan Lainnya
banner 300x250

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.