Radarjakarta.id | JAKARTA – Harga beras di sejumlah wilayah terpantau masih mahal dengan jumlah stok terbatas di sejumlah pengecer di pasar tradisional.
Harga beras terus melambung setidaknya dalam 1-2 pekan terakhir, bahkan beberapa kali memecahkan rekor. Hal ini terjadi bukan hanya pada beras premium, tetapi juga beras medium.
Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) memprediksi kelangkaan dan mahalnya harga beras berlangsung setidaknya sampai akhir Maret 2024.
Ketua Umum Perpadi Sutarto Alimoeso mengatakan hal itu terjadi karena panen di Maret pun tidak terlalu besar dan cenderung di bawah normal.
“Kondisi seperti ini masih akan berlangsung sampai dengan akhir Maret,” katanya, Senin (26/2).
Para pedagang bahan makanan pokok di Pasar tradisional mengatakan bahwa tingginya harga beras sudah sejak sebelum pemungutan suara, Para pedagang hanya menjual beras non-premium karena kesulitan mendapatkan pasokan.
“Sekarang beras yang saya jual hanya ini, beras dari penggilingan. Saya jual Rp 15.000 per kilogram dan Rp 16.000 per kilogram,”Kata Marti’in (47) pedagang Pasar Legi, sembari menunjuk dua karung beras kemasan masing-masing 10 kilogram.
Pada situasi normal sebelum terjadi kelangkaan dan kenaikan beras, terangnya, beras tersebut dijual di kiosnya dengan harga kurang dari Rp 10.000 per kilogram.
Selain harga menjadi sangat mahal, diduga stok beras di penggilingan dan pemasok juga terbatas jumlahnya, terindikasi dari sedikitnya kiriman beras yang diterima dari pemasok.
Saat ini sulit mencari beras premium di pasar modern berjejaring kebanyakan kosong, dan hanya tersedia jenis medium sedangkan jenis premium sudah kosong.
Penyebab lain, harga menjadi tinggi itu disebabkan karena produksinya yang memang sedikit, imbas dari El Nino yang panjang.
Para petani kita yang jadi gagal panen. November atau Desember dia tanam tapi besoknya kering, akhirnya dia ngulang tanam. | Eka*











