Harapan Gaji Besar Berujung Disandera, Pemuda Medan Terjebak Scam di Myanmar

banner 468x60

MEDAN, Radarjakarta.id – SP (33), pemuda asal Medan, Sumatera Utara, mengalami mimpi buruk yang berawal dari janji pekerjaan dengan gaji Rp16 juta per bulan di Thailand. Ia menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan terpaksa bertahan di wilayah konflik Shwe Kokko, Myanmar, bersama puluhan WNI lainnya.

Berangkat dari Medan pada September 2025 bersama empat temannya, mereka dijanjikan bekerja di bidang e‑commerce. “Kami diiming-imingi gaji Rp16 juta per bulan, kami pun berangkat,” ungkap SP kepada wartawan. Janji ini ternyata hanya tipuan belaka. Setibanya di Thailand, mereka diselundupkan ke perbatasan Myanmar dan dipaksa bekerja sebagai scammer online.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Di Shwe Kokko, kondisi hidup sangat berat. Para korban ditempatkan di penampungan yang dijaga ketat militer Myanmar, dengan fasilitas sangat minim. “Stres kami di sini. Makanan sering tidak layak, kadang basi, bahkan ada yang mengandung babi. Aku sering tidak bisa makan karena Muslim, sampai tumbang dan sakit,” kata SP.

Selain masalah logistik, SP juga menghadapi tekanan dari sesama pengungsi warga negara asing, termasuk dari India dan Afrika. “Sering terjadi cekcok dan kericuhan yang diawali dari WNA tersebut,” tambahnya. Keadaan ini membuat mental para korban menurun drastis.

SP dan korban lain baru bisa mengurus Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) setelah paspor mereka dikembalikan oleh perusahaan perekrut ke pihak Indonesia. Ia dijadwalkan pulang ke Medan pada 21 Januari 2026. Namun, sekitar 11 WNI asal Medan masih tertahan karena proses administrasi SPLP belum selesai.

Menanggapi nasib warganya, Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menyatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan BP2MI. “Kami sedang komunikasi untuk data-data rekan-rekan kami agar proses pemulangan bisa segera dilakukan,” kata Rico.

Kasus SP menjadi sorotan di media sosial. Foto-foto pengungsi dan video kondisi penampungan di TikTok, YouTube, dan Facebook ramai dibagikan, menimbulkan tagar trending seperti #SelamatkanWNI dan #StopPerdaganganOrang, memicu perhatian publik nasional.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Puluhan hingga ratusan WNI pernah menjadi korban sindikat scam di Myanmar, menunjukkan bahaya nyata TPPO internasional. Kasus ini menegaskan perlunya kewaspadaan warga dan koordinasi pemerintah agar tragedi serupa tidak terulang.| Dita*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.