Haidar Alwi: Morowali dan Lahirnya Desain Ulang Sistem Negara Neuro-Adaptif

Haidar Alwi
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Negara modern tidak cukup berdiri di atas aturan dan birokrasi. Ia membutuhkan kemampuan merasakan ruang, membaca ancaman, dan menyesuaikan diri terhadap dinamika yang bergerak dengan kecepatan industri global.

Dalam pandangan Ir. R. Haidar Alwi, MT, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, negara adalah organisme hidup. Ia memiliki sistem syaraf, memori ruang, dan naluri untuk melindungi dirinya. Ketika satu simpul kehilangan sensitivitas, seluruh tubuh negara terdampak. Dan dari Morowali, pesan itu muncul dengan sangat jelas.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Kawasan industri Morowali bergerak cepat dalam skala global: ratusan ribu pekerja, arus logistik multinasional, dan infrastruktur industri yang terus berkembang. Namun dinamika secepat itu membutuhkan kehadiran negara yang sama cepatnya.

Ketika sebuah bandara di kawasan strategis ini sempat beroperasi sebelum seluruh perangkat pengawasan negara hadir lengkap, Morowali memberi sinyal penting tentang perlunya pembaruan mekanisme negara. Bukan karena ada yang salah dari Morowali, dan bukan karena pemerintahan hari ini lalai, tetapi karena model koordinasi lama memang tidak dirancang untuk menghadapi ritme industri secepat zaman ini.

Haidar Alwi memandang bahwa negara sedang memasuki fase transisi: dari pola administratif lawas menuju arsitektur negara yang adaptif dan terhubung. Dan momentum ini datang bersamaan dengan hadirnya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yang gaya dan nalurinya selaras dengan kebutuhan negara untuk mempercepat kehadirannya dalam ruang-ruang strategis.

Ruang Industri Cepat, Negara Membutuhkan Kesadaran Baru

Ruang strategis seperti Morowali bukan lagi sekadar wilayah ekonomi. Ia adalah simpul geopolitik, simpul keamanan, dan simpul arus tenaga kerja asing. Dalam standar negara maju, ruang seperti ini harus dijaga oleh pengawasan penuh: pemetaan geospasial akurat, Bea Cukai, Imigrasi, pengamanan terpadu, dan integrasi data antarinstansi.

Fakta bahwa sistem lama negara belum mampu bergerak dalam kecepatan yang sama adalah alarm yang harus dibaca, bukan dengan kemarahan, tetapi kebijaksanaan.

Bagi Haidar Alwi, ini bukan persoalan kesalahan masa lalu. Ini adalah kebutuhan zaman yang menuntut cara baru bagi negara untuk hadir. Dan Prabowo Subianto hadir pada momentum yang tepat: saat negara membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara visi, tetapi gesit dalam eksekusi.

Pola Lama yang Terfragmentasi: Saatnya Negara Tidak Bekerja Sendiri-sendiri

Selama ini, lembaga-lembaga negara bekerja dengan struktur sektoral:

– Bea Cukai dengan kewenangan kepabeanan,
– Imigrasi mengawasi mobilitas manusia,
– Kemenhub mengatur transportasi,
– Pemda mengelola kawasan,
– TNI–Polri menjaga stabilitas,
– BIG memegang data ruang nasional,
– dan kementerian teknis mengawasi perizinan.

Tidak ada yang salah dari masing-masing lembaga. Masalah muncul ketika semua bekerja baik, tetapi tidak bersama. Industri bergerak dengan satu kecepatan; negara bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda. Di ruang seperti Morowali, ketidaksamaan kecepatan ini menciptakan celah yang harus diperkuat.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memahami hal ini. Dalam banyak kesempatan, beliau menegaskan perlunya integrasi dan percepatan negara di bidang keamanan, kedaulatan ruang, dan pengawasan logistik strategis. Haidar Alwi melihat bahwa gaya kepemimpinan Prabowo, yang cepat, tegas, dan tidak bertele-tele, adalah karakter ideal untuk menyatukan kembali sistem pengawasan negara.

Ketika Negara Belajar dari Sistem Syaraf Manusia

Haidar Alwi memperkenalkan gagasan negara neuro-adaptif, yaitu negara yang bekerja seperti sistem syaraf manusia. Dalam tubuh, syaraf tidak menunggu rapat atau komando yang panjang. Begitu ada rangsangan, respons diberikan segera. Negara pun harus seperti itu: terintegrasi, adaptif, dan responsif terhadap perubahan ruang.

Negara neuro-adaptif memiliki empat ciri:

1. Kesadaran ruang real-time melalui data geospasial terpadu.
2. Pengawasan kawasan industri strategis dalam satu komando terpadu.
3. Mobilitas keputusan cepat untuk mencegah risiko sebelum muncul.
4. Integrasi total TNI–Polri–BIG–Pemda–Kemenhub tanpa sekat sektoral.

Dan inilah keunggulan besar era Prabowo: beliau adalah pemimpin dengan latar belakang pertahanan yang mengerti bahwa ancaman tidak menunggu negara bersiap. Negara-lah yang harus hadir sebelum ancaman muncul. Karena itu, gagasan neuro-adaptif bukan hanya konsep ilmiah. Ia adalah kebutuhan negara yang selaras dengan gaya memimpin Presiden Prabowo Subianto.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.