Haidar Alwi: Membaca Jebakan Politik dari Wacana Darurat Militer hingga Reformasi Polri

Haidar Alwi
banner 468x60

Pola Jebakan Politik yang Terulang

Menurut Haidar Alwi, jebakan politik modern selalu dimulai dengan narasi moral yang tampak benar. Isu dikemas seolah demi kepentingan rakyat, lalu digiring menjadi tekanan agar pemerintah tergesa-gesa. Setelah itu, setiap langkah pemerintah dipelintir menjadi kesalahan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Jika Presiden cepat bertindak, mereka menuduh otoriter. Jika Presiden menunggu prosedur, mereka menuduh lamban. Tujuannya bukan mencari solusi, melainkan menciptakan keraguan publik terhadap negara. Inilah bentuk baru dari politik tekanan yang menggerus kepercayaan,” kata Haidar Alwi.

Keputusan Prabowo menjawabnya dengan desain kebijakan adalah bentuk kecerdasan politik tingkat tinggi. Pemerintah tidak menolak kritik, tetapi menjadikannya bahan reformasi yang terukur. Dalam pola seperti ini, kekuatan tidak diukur dari respons emosional, melainkan dari konsistensi menjalankan hukum.

Stabilitas Pemerintahan dan Kepercayaan Rakyat

Pendekatan konstitusional yang diambil Presiden Prabowo menghasilkan stabilitas nyata. DPR tetap solid, aparat keamanan terkoordinasi, dan Polri mendapat ruang aman untuk memperbaiki diri tanpa intervensi opini. Masyarakat melihat bukti, bukan wacana.

“Pemerintahan yang kuat bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling jernih langkahnya. Prabowo dan Kapolri telah menunjukkan sinergi itu: menegakkan hukum tanpa kehilangan empati, memperkuat aparat tanpa menekan demokrasi,” tegas Haidar Alwi.

Keseimbangan antara ketegasan dan rasionalitas inilah yang membuat pemerintahan Prabowo mampu melewati tekanan politik tanpa kehilangan legitimasi.

Rakyat Sebagai Penjaga Akal Sehat Bangsa

Haidar Alwi mengingatkan bahwa kekuatan terbesar negara terletak pada rakyat yang mampu berpikir jernih. Menurutnya, rakyat yang kritis namun adil akan menjadi tembok terakhir dari manipulasi politik.

“Kita boleh kecewa, tapi jangan kehilangan arah. Boleh berbeda pendapat, tapi jangan kehilangan rasa hormat. Demokrasi hanya akan bertahan bila rakyatnya sabar dan rasional. Ketika masyarakat tidak mudah diprovokasi, maka konstitusi bekerja sebagaimana mestinya,” kata Haidar Alwi.

Kedewasaan rakyat dalam menilai situasi menjadi penentu utama keberhasilan reformasi tanpa harus memecah bangsa.

Dari isu darurat militer hingga reformasi Polri, Indonesia telah menunjukkan kematangan politik dan hukum yang penting bagi masa depan. Pemerintah bertindak dengan kepala dingin, Polri berbenah dengan disiplin, dan rakyat belajar menilai dengan akal sehat. Semua itu menandakan bahwa kekuatan bangsa ini bukan pada reaksinya, tetapi pada ketenangan dalam menghadapi tekanan.

“Bangsa ini tidak akan tumbang oleh krisis, selama hukum menjadi arah dan rakyat tetap waras dalam menilai. Kita boleh berbeda pendapat, tapi jangan kehilangan cinta pada negeri sendiri. Sebab Indonesia tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna, melainkan pemimpin yang berani berpikir di tengah tekanan dan tetap jernih ketika diserang. Itulah cara menjaga marwah republik: dengan tenang, dengan logika, dan dengan hati yang tidak mudah diadu oleh kepentingan,” pungkas Haidar Alwi.|Bemby

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.