Insentif Modal Luar Negeri: Repatriasi Dengan Inovasi
Haidar Alwi menilai Ferry latuhihin keliru memandang repatriasi dana luar negeri sebagai kebijakan pajak biasa. “Purbaya tidak sekadar memberi potongan pajak, tapi menciptakan rumah bagi dana itu. Melalui obligasi USD, green sukuk, dan infrastructure notes, ia memberi jalan agar modal kembali tanpa mengguncang kurs,” kata Haidar Alwi.
Uang yang kembali ke tanah air, akan memperkuat pembiayaan proyek infrastruktur dan transisi energi. “Uang tidak akan pulang karena dipaksa, tapi karena merasa aman dan bermanfaat. Itulah yang sedang dibangun Purbaya, rasa aman yang produktif,” ujar Haidar Alwi.
Multiplier Efek Lebih Dalam dari Sekadar Angka
Ferry latuhihin memperkirakan multiplier efek dana Rp200 triliun hanya 0,11 persen. Haidar menilai perhitungan itu terlalu dangkal. “Multiplier tidak hanya dihitung dari peredaran dana, tapi dari efek leverage dan kandungan lokal. Dana publik bisa menarik dana privat lima kali lipat lewat skema risk sharing, dan peningkatan kandungan lokal memperbesar efek ekonomi domestik,” kata Haidar Alwi.
Haidar Alwi menambahkan, kebijakan Purbaya adalah fiscal geometry: mengatur arah uang, bukan hanya jumlahnya. “Purbaya menghitung nilai sosial dari setiap rupiah, berapa pekerjaan diciptakan, berapa industri lokal tumbuh, berapa kemandirian terbentuk. Inilah multiplier sejati yang tidak bisa dihitung dengan kalkulator,” ujar Haidar Alwi.
Arah Baru Ekonomi Nasional dan Optimisme Rakyat
Bagi Haidar Alwi, esensi kebijakan Purbaya Yudhi Sadewa terletak pada keberanian mengubah paradigma ekonomi nasional. “Purbaya tidak sedang memoles statistik, tapi sedang menulis ulang logika ekonomi Indonesia agar lebih berdaulat,” ungkap Haidar Alwi.
Haidar Alwi menilai structured fiscal leverage yang dijalankan Purbaya adalah sinergi disiplin fiskal, moneter, dan inovasi publik yang menjadikan ekonomi tahan krisis. Haidar Alwi mengajak masyarakat untuk tetap optimistis dan tidak termakan narasi pesimisme. “Kita sedang membangun ekonomi yang bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk melangkah lebih jauh. Percayalah, arah yang benar mungkin tidak cepat, tapi pasti membawa bangsa ini berdiri tegak,” jelas Haidar Alwi.
Menurut Haidar Alwi, rakyat perlu melihat bahwa di balik angka-angka ada arah besar: ekonomi yang berdikari dan tidak tunduk pada ketakutan global. “Ketika rakyat yakin bahwa pemerintah bekerja dengan logika yang benar, maka kepercayaan berubah menjadi energi. Dan energi itulah yang menggerakkan bangsa,” tegas Haidar Alwi.
Haidar Alwi menyampaikan pesan yang merangkum keseluruhan analisisnya dengan cara yang tajam dan penuh keyakinan.
“Ferry Latuhihin menggunakan kalkulator untuk menghitung masa lalu, sedangkan Purbaya Yudhi Sadewa menggunakan desain untuk membangun masa depan. Ekonomi tidak tumbuh karena uang, tetapi karena kepercayaan yang diciptakan oleh kebijakan yang berani, cerdas, dan berpihak kepada rakyat,” pungkas Haidar Alwi.|Bemby










