JAKARTA, Radarjakarta.id – R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, menilai pandangan Ferry Latuhihin yang disampaikan dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) Karni Ilyas tentang kebijakan fiskal Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum menggambarkan kompleksitas arsitektur ekonomi nasional yang sedang dibangun.
Menurut Haidar Alwi, Ferry Latuhihin hanya membaca permukaan angka, sedangkan Purbaya bekerja pada tingkat desain risiko, efisiensi modal, dan kredibilitas pasar. “Kritik yang hanya melihat angka ibarat menilai kapal dari catnya, bukan dari arah layarnya,” kata Haidar Alwi.
Ferry Latuhihin menilai bahwa penyaluran dana Rp200 triliun hanya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,06–0,11 persen karena ICOR Indonesia masih tinggi di kisaran 6,7. Ia juga menilai sektor perbankan tengah lesu, bunga sulit turun, dan insentif repatriasi dana luar negeri tidak efektif.
Namun Haidar Alwi menilai pandangan itu terlalu sempit dan mengabaikan konteks kebijakan struktural jangka panjang yang sedang dilakukan Purbaya Yudhi Sadewa. “Ferry latuhihin menghitung uang dari sisi kuantitas, Purbaya menghitung dari sisi kualitas. Itulah perbedaan antara pengamat dan perancang,” ujar Haidar Alwi.
ICOR Adalah Variabel, Bukan Dogma
Menurut Haidar Alwi, Ferry Latuhihin masih menggunakan pendekatan lama di mana ICOR dianggap angka absolut. Padahal, Purbaya Yudhi Sadewa justru memperlakukan ICOR sebagai variabel yang bisa direkayasa melalui peningkatan efisiensi dan produktivitas.
“ICOR 6,7 itu hasil dari masa lalu. Purbaya menurunkan ICOR marjinal sektoral melalui sektor berdaya saing tinggi seperti logistik, energi terbarukan, dan hilirisasi mineral,” jelas Haidar Alwi.
Dalam teori makroekonomi modern, pertumbuhan tidak lagi hanya ΔY = ΔI/ICOR, melainkan ΔY = ΔA·F(K,L) + (ΔI/ICOR_marjinal), dengan ΔA positif karena adanya peningkatan produktivitas total faktor produksi. “Kebijakan Purbaya mengubah orientasi dari seberapa banyak uang dikeluarkan menjadi seberapa efisien uang itu bekerja untuk rakyat,” ungkap Haidar Alwi.
Haidar Alwi menilai langkah Purbaya merupakan bentuk keberanian intelektual: membangun logika ekonomi yang mandiri dan tidak bergantung pada paradigma lama. “Inilah karakter Menkeu yang memahami bahwa pembangunan bukan sekadar angka APBN, melainkan arsitektur moral untuk memastikan uang negara benar-benar menjadi energi produktif bagi rakyat,” kata Haidar Alwi.










