Haidar Alwi: Indonesia Harus Bijak Kelola Rivalitas AS–Tiongkok

banner 468x60

JAKARTA – Pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, R. Haidar Alwi, mengingatkan pentingnya kewaspadaan bangsa Indonesia dalam menghadapi derasnya arus informasi dan ketatnya rivalitas global. Menurutnya, Indonesia harus berdiri tegak, tidak sekadar menjadi penonton, tetapi mampu memosisikan diri sebagai poros penting di tengah persaingan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

“Bangsa Indonesia harus terbiasa menimbang informasi dengan akal sehat. Jangan terburu-buru percaya sebelum jelas kebenarannya. Kedewasaan bangsa terlihat dari kebijaksanaan dalam menyikapi kabar,” tegas Haidar, Senin (25/8).

Ekonomi: Nikel, Strategi, dan Kedaulatan

Indonesia kini menjadi produsen nikel terbesar dunia, dengan pangsa lebih dari 60 persen. Komoditas ini menjadi kunci transisi energi global menuju kendaraan listrik dan energi terbarukan. Pembangunan kawasan industri baterai bernilai miliaran dolar membuktikan perhatian dunia pada Indonesia.

Namun, sebagian besar pengolahan nikel masih dikuasai perusahaan asing, terutama dari Tiongkok. Haidar mengingatkan pemerintah agar tidak sekadar memberi ruang bagi investasi, tetapi memastikan rakyat menjadi penerima manfaat utama.

“Hasil bumi kita adalah milik bangsa. Jangan biarkan rakyat hanya jadi penonton di tanah sendiri,” ujarnya.

Politik: Transparansi dan Kepemimpinan Visioner

Haidar menyoroti proyek besar seperti kereta cepat Jakarta–Bandung yang dibiayai investasi asing. Ia menekankan pentingnya keterbukaan dalam setiap proyek strategis agar tidak menimbulkan isu negatif dan melemahkan kepercayaan publik.

“Transparansi adalah kunci agar rakyat percaya pada pembangunan. Manfaat dan risiko proyek besar harus dijelaskan secara terbuka,” katanya.

Ia juga mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar tegas terhadap para pembantunya. Tidak semua menteri, menurut Haidar, akan sejalan dengan visi besar bangsa.

“Loyalitas menteri adalah kepada rakyat dan konstitusi. Jika ada yang melenceng, langkah tegas harus diambil,” tandasnya.

Geopolitik: Peluang dalam Rivalitas Global

Rivalitas AS–Tiongkok, khususnya dalam energi terbarukan, menempatkan Indonesia pada posisi strategis. Kedua negara sama-sama membutuhkan nikel Indonesia sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Haidar menegaskan Indonesia harus cerdas memainkan peran: membuka ruang kerja sama dengan AS tanpa meninggalkan Tiongkok, dan sebaliknya.

“Indonesia tidak boleh hanya jadi arena perebutan. Kita harus berdiri sebagai penentu arah, dengan diplomasi elegan dan bermartabat,” kata Haidar.

Solusi: Jalan Kebangsaan

Untuk memperkuat kedaulatan, Haidar menawarkan tiga langkah konkret:

1. Membentuk badan khusus mineral strategis guna mengamankan aset bangsa.

2. Memperkuat koperasi tambang rakyat agar hasil bumi dirasakan masyarakat luas.

3. Mewajibkan keterbukaan kontrak proyek besar, sehingga publik bisa ikut mengawasi.

“Dengan cara ini, rakyat bukan lagi penonton, melainkan pemilik sah kekayaan negeri,” tegasnya.

Optimisme untuk Negeri

Haidar menutup dengan nada optimis. Dengan kekayaan alam yang melimpah dan penduduk yang produktif, Indonesia memiliki modal besar untuk memimpin transisi energi global.

“Masa depan Indonesia ada di tangan kita. Hanya dengan persatuan, kedaulatan, dan kepemimpinan visioner, bangsa ini akan berdiri tegak di hadapan dunia,” pungkas Haidar Alwi.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.