Haidar Alwi Apresiasi Respons Presisi Kapolri Mengusut Jejak Kayu Gelondongan di Kawasan Bencana Banjir

Haidar Alwi
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Ketika banjir besar melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, air tidak hanya merendam rumah, menutup jalan, dan mengganggu kehidupan warga, air juga membawa gelondongan kayu dalam jumlah besar, memenuhi muara, menghambat aliran sungai, dan memunculkan pertanyaan besar di ruang publik.

Menurut Ir. R. Haidar Alwi, MT, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute serta Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, peristiwa ini bukan sekadar banjir. Ini adalah percakapan alam yang sedang meminta negara untuk mendengarkan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dan bagi Haidar, di era Presiden Prabowo Subianto, negara menunjukkan kepekaannya: negara hadir tidak dengan reaksi panik, tetapi dengan tindakan presisi yang menenangkan, ilmiah, dan bertanggung jawab. Negara hadir sebagai organisme yang merasakan rakyatnya sebelum keresahan berubah menjadi ketakutan.

Ketika Alam Membuka Riwayat Hulu: Gelondongan Kayu Sebagai Bahasa Ekologis

Arus banjir bekerja seperti pena alam. Ia menuliskan kembali apa yang tersembunyi di hulu, lalu membawanya ke hilir. Dalam ilmu hidrologi, tidak ada material yang hanyut tanpa alasan. Pohon raksasa dapat tumbang ketika tebing kehilangan daya topang. Lereng gundul dapat runtuh saat tanah jenuh air.

Tumpukan kayu legal dapat terbawa ketika debit air melampaui batas normal. Bahkan kayu dari aktivitas ilegal, yang selama ini tersembunyi di balik padatnya vegetasi, bisa terseret ketika banjir mengangkat tirai hutan.

Ketika fenomena ini muncul di Padang, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Sibolga, hingga Meureudu di Aceh, Haidar melihat bahwa alam sedang berbicara. Alam sedang memperlihatkan “riwayat ruang” yang selama bertahun-tahun tidak disadari manusia.

“Alam tidak pernah menyampaikan pesannya dengan bisik-bisik. Ia mengirim tanda melalui air, tanah, dan kayu, agar manusia mengingat kembali hubungannya dengan ruang. Tugas negara adalah mendengarkan tanpa prasangka dan membaca tanpa keraguan,” ujar Haidar Alwi. Jika kayu adalah pesan, maka ilmu adalah cara membacanya. Dan sebuah pesan hanya berguna jika ditafsirkan dengan ketelitian.

Ilmu Ekologi: Cara Negeri Membaca Jejak Kayu dan Masa Lalu Ruang

Kayu gelondongan bukan sekadar objek terapung. Ia adalah data ekologis yang membawa tanda. Dalam ilmu kehutanan, pola serat, arah patahan, kadar air, tekstur kulit, dan residu akar dapat mengungkap asal kayu: tumbang alami, longsor besar, tumpukan legal, atau aktivitas ilegal.

Dalam geomorfologi, arah rotasi batang dan material yang menempel menunjukkan bagaimana lereng bergerak sebelum banjir. Citra satelit memperlihatkan bagaimana tutupan lahan berubah dalam hitungan tahun. Semua itu, bagi Haidar Alwi, adalah bentuk kejujuran alam. Sebab alam menyimpan riwayatnya pada benda-benda yang ia lepaskan.

“Kayu hanyut adalah huruf-huruf ekologis yang menyusun kalimat panjang tentang masa lalu sebuah ruang. Jika negara mau membacanya dengan sabar, setiap huruf akan menunjukkan apa yang harus diperbaiki demi masa depan,” tutur Haidar Alwi.

Namun pengetahuan tidak pernah cukup tanpa tindakan. Sains memberi peta, tetapi negara lah yang harus memilih arah. Dan dalam struktur negara, indra pertama yang membaca tanda-tanda ruang adalah Polri, lembaga yang selalu bergerak pada detik pertama ketika alam mengirimkan sinyal. Karena itu, ketika pesan ekologis muncul lewat gelondongan kayu, presisi Polri menjadi jawaban pertama negara.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.