TULUNGAGUNG, Radarjakarta.id – Kesenian tradisional kembali mendapat panggung terhormat lewat aksi memukau warga binaan pemasyarakatan (WBP) dari Lapas Kelas IIB Tulungagung. Dalam ajang bergengsi Pentas Seni Perkemahan Satya Dharma Bhakti Pemasyarakatan yang digelar di Lapas Kelas I Surabaya, Porong, Sidoarjo, Senin (21/7), tiga WBP unjuk kebolehan lewat tarian khas Tulungagung: Jaranan Sentherewe Turonggo Satria Bhinangun.
Mendapat giliran tampil kelima dari 38 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-Jawa Timur, penampilan Rizal, Leo, dan Andika berhasil menyita perhatian penonton dan dewan juri. Rizal dan Leo menari dengan gerakan jaranan yang energik, sementara Andika memerankan sosok barong dengan penuh penjiwaan. Kombinasi mereka menyalakan tepuk tangan dan decak kagum dari hadirin.
Tarian yang mereka tampilkan bukan sekadar pertunjukan. Jaranan Sentherewe bukan hanya simbol kebudayaan Tulungagung, melainkan juga medium pembinaan karakter, spiritualitas, dan ekspresi diri bagi para narapidana.
“Kami tidak hanya membina disiplin dan keterampilan, tetapi juga membangun kembali jiwa mereka lewat pelestarian budaya,” ujar Kepala Lapas Kelas IIB Tulungagung, Ma’ruf Prasetyo Hadianto.
“Kami bangga, karena mereka berhasil mengangkat budaya lokal ke panggung regional.”
Pentas seni ini merupakan rangkaian kegiatan tahunan kepramukaan Pemasyarakatan, yang tidak hanya menjadi ajang kreativitas, tetapi juga sarana rehabilitasi sosial dan mental para WBP.
Lewat panggung sederhana, jaranan menggelegar dan dari balik jeruji, harapan dan budaya kembali dipentaskan. | Eva*
Guncang Panggung Porong, Pramuka Lapas Tulungagung Tampilkan Tari Jaranan Sentherewe










