JAKARTA, Radarjakarta.id – Industri perfilman nasional kembali menghadirkan drama keluarga bernuansa budaya lewat film Antara Mama, Cinta, dan Surga: Bahasa Cinta Nommensen. Film produksi PIM Pictures ini resmi diperkenalkan dalam acara pemutaran pers di Epicentrum XXI, Jakarta, hasil kolaborasi dengan HKBP serta Badan Pelaksana Otorita Danau Toba.
Disutradarai oleh Agustinus Sitorus, film ini mengangkat konflik klasik namun relevan: pergulatan antara restu orang tua, panggilan iman, dan pilihan hidup generasi muda.
Konflik Keluarga dalam Balutan Budaya Batak
Kisah berpusat pada Bernard (Aldy Maldini), anak bungsu keluarga Batak yang diharapkan sang ibu menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun arah hidup Bernard berubah setelah ia mengalami mimpi spiritual tentang tokoh misionaris Ludwig Ingwer Nommensen yang membangkitkan keinginannya untuk menjadi pendeta.
Keputusan tersebut memicu konflik dengan sang Mamak yang diperankan Dharty Manullang. Perbedaan pandangan itu tak hanya mengguncang hubungan ibu dan anak, tetapi juga menguji cinta Bernard dengan Anindita (Anneth Delliecia).
Menurut Agustinus Sitorus, tema yang diangkat memang dekat dengan realitas masyarakat. “Keluarga, keyakinan, dan cinta sering kali berada di persimpangan. Konflik ini nyata terjadi di banyak rumah, tetapi jarang dibicarakan secara terbuka,” ujarnya.
Transformasi Aldy Maldini
Bagi Aldy Maldini, peran Bernard menjadi tantangan tersendiri. Mantan personel Coboy Junior tersebut harus meninggalkan citra cerianya untuk memerankan sosok yang penuh tekanan batin.
Ia mengaku karakter Bernard berbeda jauh dari dirinya. “Biasanya saya memerankan karakter yang ringan dan ceria. Di film ini, saya harus menampilkan sisi emosional yang lebih dalam,” katanya.
Film ini juga menandai debut layar lebar Anneth Delliecia. Penyanyi muda itu mengungkapkan bahwa proses syuting di kawasan Danau Toba memberikan pengalaman emosional tersendiri, terlebih karena Sumatera Utara memiliki kedekatan personal baginya.
Refleksi bagi Orang Tua
Selain menyoroti dinamika anak muda, film ini juga menghadirkan refleksi bagi para orang tua. Karakter Mamak digambarkan bukan sebagai sosok antagonis, melainkan ibu yang keras karena rasa khawatir dan kasih sayang.
Aktor senior Cok Simbara yang turut berperan dalam film ini menilai pesan toleransi dan komunikasi keluarga menjadi kekuatan utama cerita. Film ini, menurutnya, menunjukkan bahwa perbedaan pilihan hidup tidak semestinya memutus hubungan kasih dalam keluarga.
Tayang 19 Februari 2026
Dengan latar budaya Batak yang kental dan visual keindahan Danau Toba, Antara Mama, Cinta, dan Surga dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 19 Februari 2026.
Film ini menawarkan kisah yang dekat dengan kehidupan banyak keluarga Indonesia: tentang harapan orang tua, kebebasan memilih jalan hidup, dan keberanian mengikuti panggilan hati.***










