DUO SRIKANDI PERKEMI Di Puncak Gunung Gede Pangrango

banner 468x60

Bagi Duo Srikandi yang berdarah Sunda Minang ini hal terpenting yang mereka dapatkan dari setiap petualang, mereka selalu diajarkan untuk selalu optimis didalam mencapai tujuan, selain harus disiplin dan bertanggung jawab penuh didalam menjalani hidup, mereka juga dididik untuk terampil, selalu siap berkorban dan harus tegas bersikap, juga siap mengambil resiko dalam perjuangan mencapai tujuan.

Mereka memahami hidup itu suatu proses dan perjalanan, tidak ada yang instan. Hal tersebutlah yang selalu ditanamkan oleh orang tuanya pasutri Hj. Matini Nursamsi dan H. Alfan Sari.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ketika di konfirmasi by phone selulernya oleh awak media, lelaki paruh abad yang berperawakan kekar, tegas dan selalu fresh optimis ini yang juga dikenal dengan panggilan Bang Haji sebagai “Advokat Kontroversial versi Mata Nazwa tahun 2016” sempat menjelaskan kepada awak media

“Saya selalu menanamkan kepada anak-anak saya agar selalu disiplin dan bertanggung jawab, bukan hanya pada dirinya tapi juga terhadap lingkungannya dari mulai bangun tidur hingga mau tidur.” Ucapnya

“Saya melatih mereka dengan kegiatan pendakian atau lintas alam ini, mereka harus tau/paham dan patuh dengan setiap adanya aturan, diantara harus bisa menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan bekas minum atau makanan, bahkan sekalipun hanya berupa bungkus permen” ujar lelaki yang juga penyandang Sabuk Hitam di Beladiri Shorinji Kempo dan juga Petembak serta pernah menjabat sebagai Pengurus PERKEMI dan PERBAKIN di provinsi Banten.

Dari ujung telpon selulernya sesekali terdengar arahan kepada masing-masing putrinya tersebut agar jangan lupa membawa kantung plastik yang dilekatkan dipinggang berisikan sampah bekas kemasan minuman dan makanan sejak awal pendakian hingga turun gunung, yang nantinya akan mereka buang pada tempat sampah sesuai peruntukannya dibawah kaki gunung ketika turun kembali pulang.

Bagi sang advokat alias pak lawyer yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Organisasi Advokat di wilayah Banten ini, Hiking bukan semata-mata hanya refreshing atau healing untuk mendapatkan kesenangan dan pencitraan semata, tapi ada misi sarat edukasi bagi putri-putrinya untuk menempa fisik dan mental mereka sebagai cikal bakal menjadi pribadi yang handal di masa depan.

“Manja boleh, Cengeng jangan… Apa lagi Cemen” ujar Papie sang Srikandi yang belakangan diketahui bersinergy sebagai Tim Hukum DPP PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) yang dikomandoi oleh wartawan senior yang terkenal vokal dan kritis yakni, Wilson Lalengke selaku Ketua Umum PPWI Nasional, Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., MA.

Kali ini duo Srikandi kakak beradik ini kembali didampingi oleh Papienya untuk bertualang dalam versi lintas alam mendaki puncak gunung Gede Pangrango yang ada di kawasan Bogor Jawa Barat. Kegiatan tersebut dipandu oleh Profesional Guide yakni yang dikenal dengan panggilan Kang UJENK yang bermukim di wilayah Cibodas sekitarnya, pemilik akun Instagram; panorama_camping_cibodas: https://instagram.com/panorama_camping_cibodas?igshid=MzMyNGUyNmU2YQ==

Menariknya Duo SRIKANDI n’ Papie kali ini sempat mengibarkan bendera PERKEMI di Puncak ketinggian Gunung Gede Pangrango sebagai rasa syukur dan bangganya atas hobinya di organisasi yang dibawa dan dikembangkan oleh Indra Kartasasmita Sensei, Sang Founding Father tercinta, kebanggaan kenshi seluruh tanah air Indonesia.

Gunung Gede (Aksara Sunda Baku: ᮌᮥᮔᮥᮀ ᮌᮨᮓᮦ, Gunung Gedé) merupakan sebuah gunung berapi kerucut yang berada di bagian barat Pulau Jawa, Indonesia. Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980. Gunung ini berada di dua wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, dengan ketinggian 1.000 – 2.958 mdpl, dan berada pada lintang 106°51′ – 107°02′ BT dan 64°1′ – 65°1 LS. Suhu rata-rata di puncak gunung Gede adalah 18 °C di siang hari dan di malam hari suhu puncak berkisar 5 °C, dengan curah hujan rata-rata 3.600 mm/tahun. Gerbang utama menuju gunung ini adalah dari jalur Cibodas dan Cipanas (Gunung Putri) di utara serta jalur Salabintana di arah selatan yang tidak begitu banyak dilalui pendaki karena routenya yang cukup panjang dan lumayan terjal. | Eva*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.