JAKARTA, Radarjakarta.id – Keputusan Inggris mengakui negara Palestina pada Minggu (21/9/2025) menjadi momen bersejarah yang langsung mengguncang percaturan politik global. Langkah ini dinilai selaras dengan nilai-nilai Indonesia sekaligus menegaskan pentingnya solusi dua negara dalam menyelesaikan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, menyebut pengakuan itu sebagai refleksi eratnya kemitraan strategis antara London dan Jakarta. Menurutnya, Indonesia dan Inggris memiliki komitmen yang sama untuk mendukung perdamaian dan kesetaraan hak bagi rakyat Palestina maupun Israel.
Gelombang Dukungan Internasional
Selain Inggris, tiga negara Barat lain yakni Kanada, Australia, dan Portugal juga mengumumkan pengakuan resmi terhadap Palestina pada hari yang sama. Keputusan kolektif ini, seperti dilaporkan Reuters, muncul di tengah rasa frustrasi mendalam atas perang Gaza yang telah merenggut lebih dari 60 ribu jiwa warga Palestina sejak meletus pada 7 Oktober 2023.
Tak berhenti di situ, Prancis diperkirakan akan menyusul dengan pengumuman serupa dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York pekan ini. Jika terlaksana, maka semakin banyak negara Barat yang secara terbuka mendukung berdirinya negara Palestina merdeka.
Rusia: Dua Negara Jalan Satu-Satunya
Menanggapi langkah berani empat negara Barat tersebut, Rusia kembali menegaskan bahwa solusi dua negara adalah satu-satunya jalan damai. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan Moskow tetap berpegang pada resolusi fundamental Dewan Keamanan PBB.
“Kami yakin pendekatan dua negara adalah satu-satunya cara realistis untuk mengakhiri konflik yang telah menjadi salah satu krisis paling tragis dalam sejarah modern,” ujar Peskov. Rusia sendiri sejak lama telah mengakui Palestina sebagai negara berdaulat.
Israel Marah, Palestina Menyambut
Israel bereaksi keras. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengecam pengakuan tersebut dengan menyebutnya sebagai “hadiah besar bagi terorisme”. Ia bahkan menegaskan bahwa negara Palestina tidak akan pernah berdiri di barat Sungai Yordan.
Sebaliknya, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyambut penuh harapan. Menurutnya, langkah bersejarah ini membuka jalan bagi Palestina untuk hidup berdampingan dengan Israel dalam keamanan, perdamaian, dan hubungan bertetangga yang baik.
Inggris dan Bayang-Bayang Sejarah
Keputusan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga sarat simbolisme. Lebih dari satu abad lalu, Inggris lewat Deklarasi Balfour 1917 menjadi motor lahirnya Israel di tanah Palestina. Kini, pengakuan Palestina dianggap sebagai upaya memperbaiki “dosa sejarah” kolonialisme.
Kepala Misi Palestina di Inggris, Husam Zomlot, menyebut pengumuman ini mengakhiri penyangkalan 108 tahun atas eksistensi rakyat Palestina. “Inilah koreksi sejarah yang seharusnya dilakukan sejak lama,” katanya.
Hubungan dengan Indonesia
Dominic Jermey menegaskan bahwa Inggris dan Indonesia kini semakin erat sejak pembentukan Strategic Partnership antara Presiden Prabowo Subianto dan PM Starmer pada November 2024.
“Bersama Indonesia, kami akan bekerja tanpa lelah demi masa depan yang damai, aman, dan adil bagi generasi mendatang,” tegas Jermey.
Sikap Amerika Serikat
Meski banyak negara Barat mulai berubah arah, Amerika Serikat justru menunjukkan sikap berbeda. Presiden Donald Trump menolak langkah Inggris dengan menyebut pengakuan Palestina sebagai “hadiah bagi Hamas”. Washington menganggap keputusan itu kontraproduktif bagi proses perdamaian.
Namun, Starmer menegaskan pengakuan tersebut justru ditujukan untuk memperkuat jalan perdamaian. Ia menolak keras Hamas dilibatkan dalam pemerintahan Palestina, sekaligus mendesak agar kelompok itu segera membebaskan seluruh sandera Israel.
Babak Baru di Timur Tengah
Keputusan Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal ini menambah daftar lebih dari 140 negara di dunia yang sudah lebih dulu mengakui Palestina. Dukungan internasional yang semakin meluas diharapkan menjadi momentum baru untuk menekan Israel agar menghentikan agresinya di Gaza dan membuka ruang bagi solusi dua negara.
Dengan semakin kuatnya dukungan global, babak baru sejarah Timur Tengah kini tengah ditulis. Pertanyaannya: akankah pengakuan ini benar-benar membuka jalan menuju perdamaian, atau justru memicu babak baru ketegangan internasional?***










