JAKARTA, Radarjakarta.id — Bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kian menegaskan skala tragedi nasional. Hingga Minggu (14/12/2025) malam, jumlah korban meninggal dunia tercatat 1.016 jiwa, sementara 212 orang masih dinyatakan hilang, menjadikan bencana ini salah satu yang paling mematikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Penambahan korban jiwa terjadi setelah tim SAR gabungan kembali menemukan 10 jasad di sejumlah titik terdampak. Sembilan korban ditemukan di Aceh dan satu korban di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Temuan ini menaikkan angka kematian dari sehari sebelumnya yang tercatat 1.006 jiwa.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyatakan proses pencarian terus dilakukan meski dihadapkan pada medan ekstrem dan cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat. “Total korban meninggal kini 1.016 jiwa. Penambahan terjadi di Aceh dan Kabupaten Agam,” ujarnya dalam konferensi pers daring.
Data BNPB menunjukkan Aceh menjadi wilayah dengan korban terbanyak, 424 jiwa, disusul Sumatra Utara 349 jiwa dan Sumatra Barat 243 jiwa. Selain itu, 7.600 warga mengalami luka-luka dan 624.670 orang mengungsi, meski jumlah pengungsi tercatat menurun dibandingkan hari sebelumnya.
Kerusakan infrastruktur berlangsung masif. Sebanyak 158 ribu rumah rusak berat, lebih dari 1.200 fasilitas umum, 219 fasilitas kesehatan, 581 sekolah, 434 rumah ibadah, 290 gedung perkantoran, serta 145 jembatan dilaporkan rusak. Total 52 kabupaten/kota terdampak, dengan sejumlah wilayah masih terisolasi akibat akses terputus.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya meninjau langsung wilayah terdampak di Aceh dan menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas keterbatasan penanganan di lapangan. Presiden berjanji pemerintah akan mengawal pemulihan pascabencana dan memastikan anak-anak korban segera kembali bersekolah.
Saat ini, BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan relawan memfokuskan upaya pada pencarian korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pembukaan akses wilayah terisolasi, serta percepatan distribusi logistik. Dengan ratusan orang masih hilang, duka Sumatra belum usai dan operasi kemanusiaan terus berpacu dengan waktu.***











