DPR Kritik Rencana Impor 105 Ribu Pikap India untuk Kopdes Merah Putih

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, mempertanyakan langkah PT Agrinas Pangan Nusantara yang berencana mengimpor 105 ribu unit mobil pikap secara utuh (completely built up/CBU) dari India untuk mendukung Program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

Menurut Firman, kebijakan impor dalam jumlah besar tersebut dinilai janggal dan berpotensi melemahkan arah industrialisasi nasional yang selama ini digaungkan pemerintah.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Kalau kapasitas produksi dalam negeri mencukupi, mengapa harus impor dalam jumlah besar? Ini bukan sekadar soal pengadaan kendaraan, tapi menyangkut keberpihakan pada industri nasional,” tegasnya, Minggu (22/2/2026).

Firman menilai industri otomotif tidak hanya sebatas perakitan kendaraan, melainkan melibatkan rantai pasok panjang mulai dari industri baja, komponen seperti ban dan kaca, hingga ribuan UMKM pendukung. Impor kendaraan dalam bentuk utuh, kata dia, berisiko memutus mata rantai nilai tambah yang seharusnya dinikmati tenaga kerja dan pelaku usaha dalam negeri.

Ia juga mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak bertentangan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto yang kerap menekankan pentingnya hilirisasi, penguatan produksi nasional, serta penciptaan lapangan kerja.

“Jangan sampai pidato Presiden mengenai kemandirian industri hanya menjadi slogan. Kalau praktiknya justru membuka keran impor, publik tentu berhak mempertanyakan konsistensi pemerintah,” ujarnya.

Legislator Fraksi Golkar itu menegaskan, BUMN seharusnya menjadi lokomotif penguatan industri nasional, bukan malah membuka ruang impor yang berpotensi menggerus ekosistem otomotif dalam negeri. DPR, lanjutnya, akan memantau ketat kebijakan tersebut.

“Keputusan strategis tidak boleh didasarkan pada kepentingan sesaat. Negara harus hadir melindungi industri nasional dan tenaga kerja kita,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, mengungkapkan bahwa impor dilakukan dengan sejumlah pertimbangan. Salah satunya untuk menghindari gangguan pada industri logistik nasional apabila seluruh kebutuhan kendaraan dipasok dari produksi dalam negeri.

Ia juga menyebut kendaraan produksi India memiliki spesifikasi kompetitif dengan harga lebih terjangkau. Rencananya, pengadaan dilakukan dari dua produsen India, yakni Mahindra & Mahindra dan Tata Motors.

Pada akhir bulan ini, sekitar 1.000 unit kendaraan dijadwalkan tiba di Indonesia. Targetnya, seluruh 105 ribu unit rampung masuk hingga akhir 2026. Pemerintah disebut telah mengetahui rencana tersebut, dan pendanaan disiapkan melalui Danantara Indonesia untuk mendukung salah satu program unggulan Presiden Prabowo.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.