JAKARTA, Radarjakarta.id-Dinas Kesehatan DKI Jakarta menggencarkan imunisasi kejar campak serentak (Catch Up Campaign) sepanjang Maret 2026 sebagai langkah pencegahan untuk melindungi balita dari risiko penularan penyakit campak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, mengatakan langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kasus campak, sekaligus mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB) di wilayah ibu kota.
Dalam sosialisasi Pelaksanaan Catch Up Campaign (Imunisasi Kejar Serentak) DKI Jakarta, Jumat (6/3/2026), ia mengungkapkan bahwa kasus campak masih menjadi perhatian serius. Secara nasional pada 2025 tercatat 11.509 kasus campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 349 kabupaten/kota di Indonesia.
Sementara di DKI Jakarta, sepanjang 2025 tercatat 6.930 kasus suspek campak, dengan 1.514 kasus di antaranya terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Angka tersebut menunjukkan bahwa proporsi kasus terkonfirmasi cukup besar, yakni sekitar 10 hingga 13 persen dari total laporan kasus. “Ini menunjukkan bahwa potensi penularan masih perlu diwaspadai, sehingga upaya pencegahan harus terus diperkuat,” ujar Sri Puji.
Memasuki 2026, laporan sementara menunjukkan 1.082 kasus suspek campak, meskipun hingga saat ini sebagian masih menunggu hasil konfirmasi laboratorium.
Ia menambahkan bahwa kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan karena wilayah yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, seperti Tangerang, telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan sebagai daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan campak. “Artinya wilayah tersebut sangat dekat dengan DKI Jakarta. Oleh sebab itu kita harus sama-sama waspada dan melakukan langkah pencegahan agar tidak terjadi KLB di DKI Jakarta,” jelasnya.
Masih Ada Anak Belum Lengkap Imunisasi
Sri Puji menjelaskan bahwa secara umum cakupan imunisasi campak-rubella di DKI Jakarta cukup tinggi. Pada 2025, cakupan imunisasi MR1 mencapai 100,63 persen, sedangkan MR2 sekitar 99 persen. Meski demikian, masih ditemukan anak yang belum menyelesaikan imunisasi lengkap. Data menunjukkan drop out imunisasi sekitar 1,3 persen atau sekitar 2.853 anak. “Walaupun secara persentase terlihat kecil, tetapi jika dilihat dari jumlah absolutnya ini cukup besar dan berpotensi menimbulkan kerentanan terhadap penularan campak,” katanya.
Kondisi tersebut membuat sebagian kasus campak yang ditemukan di fasilitas kesehatan berasal dari anak dengan status imunisasi yang belum lengkap.
Melalui program imunisasi kejar campak serentak, pemerintah menargetkan anak usia 9 hingga 59 bulan yang belum mendapatkan imunisasi lengkap untuk segera mendapatkan vaksin. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, serta melalui kegiatan penjangkauan di wilayah oleh puskesmas.
Tenaga kesehatan juga diminta aktif menanyakan status imunisasi anak yang datang ke fasilitas kesehatan. “Jika ditemukan anak yang belum lengkap imunisasinya, maka langsung diberikan imunisasi sesuai ketentuan,” ujarnya.
Sri Puji mengakui pelaksanaan program tersebut memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung pada bulan Ramadan serta mendekati periode mudik Lebaran. Namun demikian, ia optimistis target imunisasi dapat tercapai jika seluruh tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan bergerak bersama. “Saya yakin jika kita lakukan bersama-sama dan serentak, tidak ada yang tidak mungkin kita selesaikan,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan imunisasi kejar campak ini dapat memperkuat perlindungan kesehatan anak sekaligus mencegah risiko kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. “Ini adalah upaya kita bersama untuk menjaga kesehatan balita di DKI Jakarta,” pungkasnya.










