JAKARTA, Radarjakarta.id – Tradisi Lebaran khas masyarakat Betawi berupa “keliling kampung” masih terus terjaga di wilayah Duri Kosambi. Kegiatan yang berlangsung selama sepekan setelah Idulfitri ini menjadi momentum penting dalam mempererat tali silaturahmi antarwarga lintas generasi.
Ratusan warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua, tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berjalan bersama dalam rombongan besar menyusuri jalan dan gang-gang permukiman di Kampung Pulo dan sekitarnya, mengunjungi rumah warga dari kampung ke kampung.
Di setiap rumah yang disinggahi, tuan rumah menyambut dengan hangat serta menyediakan hidangan secara prasmanan di teras maupun halaman. Warga yang datang menikmati aneka sajian, mulai dari kue tradisional hingga makanan berat, sembari berbincang dan saling bersalaman dalam suasana penuh keakraban.
Tradisi ini telah menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan dan tidak pernah terputus dari generasi ke generasi.
Tokoh masyarakat Betawi yang juga mantan Camat Kalideres dan Kebon Jeruk, H. Naman Setiawan, menyampaikan bahwa tradisi tersebut telah ada sejak lama dan terus dijaga hingga saat ini.
“Dari dulu sampai sekarang tidak pernah terputus. Setiap tahun selalu ada dan terus dilanjutkan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di Jalan Cemara, Duri Kosambi.
Menurutnya, tradisi keliling kampung berawal dari kebiasaan para ulama yang ingin saling berkunjung saat Lebaran. Namun, pada masa itu keterbatasan alat komunikasi kerap membuat mereka tidak bertemu, bahkan berpapasan di jalan. Kondisi tersebut mendorong munculnya kesepakatan untuk mengatur jadwal kunjungan antarkampung agar silaturahmi dapat berjalan lebih efektif.
Seiring waktu, tradisi yang awalnya hanya melibatkan dua wilayah, yakni Duri Kosambi dan Tanah Koja, kini berkembang mencakup sejumlah kampung lain seperti Selong, Kampung Gunung, Cantiga, hingga Gondrong.
Dalam setiap kunjungan, rombongan warga juga menyempatkan diri mendatangi rumah para ulama dan tokoh masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan serta upaya memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Keberlangsungan tradisi ini dinilai menjadi cerminan kuatnya nilai kebersamaan, gotong royong, dan saling menghargai yang masih terjaga di tengah kehidupan perkotaan. Di era modern yang serba cepat, tradisi “keliling kampung” Betawi menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan sosial dan mempererat persaudaraan antar warga.
Dengan semangat kebersamaan yang terus dipelihara, tradisi ini diharapkan tetap lestari dan menjadi identitas budaya yang membanggakan bagi masyarakat Betawi, khususnya di wilayah Jakarta Barat.|Pranowo*











