JAKARTA, Radarjakarta.id — Kedatangan sejumlah debt collector ke kediaman Sarwendah memicu polemik baru dalam hubungan pasca-perceraian antara Sarwendah dan mantan suaminya, Ruben Onsu. Insiden yang semula dianggap sebagai penagihan biasa justru membuka rangkaian klarifikasi dari kedua belah pihak terkait kepemilikan kendaraan dan tanggung jawab finansial.
Pihak Sarwendah menyatakan bahwa penagihan tersebut merupakan kesalahan alamat. Sarwendah disebut tidak pernah membeli kendaraan secara kredit serta tidak mengetahui keberadaan mobil Range Rover milik Ruben yang menjadi sumber persoalan. Mereka menilai kedatangan debt collector ke rumah Sarwendah tidak tepat dan merugikan.
Di sisi berbeda, kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, menegaskan bahwa persoalan cicilan kendaraan yang dipersoalkan sebenarnya bukan tunggakan besar. Menurutnya, keterlambatan pembayaran hanya berselang satu hari dari tanggal jatuh tempo dan tidak seharusnya langsung ditindak dengan kunjungan penagih utang tanpa pemberitahuan resmi.
Minola juga mempertanyakan langkah penagihan yang dilakukan ke rumah Sarwendah, bukan ke alamat administratif milik Ruben sebagai pemilik kendaraan. Ia menilai prosedur tersebut tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan justru memperkeruh situasi sehingga menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
Untuk merespons anggapan bahwa kliennya mengabaikan kewajiban finansial, Minola mengungkap bahwa Ruben tetap memberikan nafkah dalam jumlah besar kepada Sarwendah pasca-cerai. Ia menyebut nilai tersebut mencapai lebih dari Rp 200 juta per bulan, yang menurutnya dapat saja memengaruhi prioritas pembayaran lainnya.
Pihak Sarwendah melalui kuasa hukumnya, Chris Sam Siwu dan Abraham Simon, merasa difitnah atas tuduhan bahwa mereka membesar-besarkan isu ini. Mereka juga menduga adanya pihak yang sengaja mengarahkan informasi keliru kepada penagih utang sehingga rumah Sarwendah menjadi sasaran penagihan.
Situasi semakin memanas setelah kubu Ruben menyinggung persoalan hak bertemu anak. Minola mengklaim Ruben mengalami kesulitan untuk bertemu anak-anaknya selama dua bulan terakhir dan mempertanyakan alasan pembatasan tersebut. Perkembangan ini menunjukkan bahwa insiden penagihan yang terjadi hanyalah puncak dari ketegangan yang lebih besar dalam dinamika hubungan kedua mantan pasangan tersebut.***











