JAKARTA, Radarjakarta.id — Ketegangan China–Jepang Meledak: Krisis Taiwan Memicu Ancaman Respons Militer Tokyo dan Gelombang Peringatan Perjalanan.
Ketegangan China–Jepang kembali melonjak ke level paling rawan dalam satu dekade terakhir setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengeluarkan pernyataan keras bahwa Tokyo dapat melakukan respons militer bila Beijing menggunakan kekuatan terhadap Taiwan. Ucapan itu memicu reaksi berantai yang mengubah isu regional menjadi krisis internasional yang viral dan memicu puluhan juta pencarian terkait konflik Asia Timur di internet.
Pernyataan Sanae Takaichi yang Memicu Badai Diplomatik Baru
Dalam sidang parlemen awal November, Takaichi menyebut bahwa keadaan darurat militer di Taiwan dapat dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup Jepang. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, seorang pemimpin Jepang menyampaikan secara terbuka kemungkinan intervensi militer Jepang bila konflik Taiwan pecah. Komentar ini langsung melompat ke daftar trending global.
Beijing menilai pernyataan itu sebagai provokasi serius. Taiwan—yang diklaim sebagai wilayahnya—selalu menjadi garis merah diplomasi China, dan komentar menyangkut perang dianggap sebagai tindakan campur tangan terhadap kedaulatan China.
China Balik Menyerang: Teguran Diplomatik, Peringatan Perjalanan, dan Kemarahan Pejabat Tinggi
Sebagai respons, Kementerian Luar Negeri China langsung mengeluarkan pernyataan keras yang meminta seluruh warga Tiongkok untuk tidak bepergian ke Jepang sementara waktu. Ini merupakan langkah paling tajam dalam beberapa tahun terakhir. Peringatan itu disusul oleh seruan tambahan dari Biro Keamanan Hong Kong, yang mendesak warganya berhati-hati karena meningkatnya insiden terhadap warga Tiongkok sejak pertengahan 2025.
China juga memanggil duta besar Jepang untuk meminta klarifikasi resmi. Di media daring China, komentar Takaichi memicu gelombang kemarahan, termasuk dari pejabat yang secara terbuka menjulukinya sebagai “penyihir jahat”, sebelum unggahan itu dihapus.
Beijing menegaskan bahwa Tokyo telah melewati batas diplomatik. Krisis ini tidak hanya soal Taiwan melainkan soal siapa yang memegang kendali narasi keamanan di Asia Timur.
Tokyo Melawan Balik: Jepang Protes ke China dan Tegaskan Tak Akan Mencabut Pernyataan
Alih-alih meredakan ketegangan, Tokyo justru meningkatkan tekanan. Pemerintah Jepang memanggil duta besar China setelah sebuah unggahan kontroversial dari Konsul Jenderal China di Osaka dinilai melewati batas etika hubungan bilateral.
PM Sanae Takaichi tetap menolak menarik ucapannya, meski mantan Perdana Menteri Shigeru Ishiba mengkritiknya sebagai pernyataan yang “terlalu dekat dengan deklarasi bahwa setiap konflik Taiwan adalah konflik Jepang.” Namun Takaichi bertahan pada argumen bahwa ancaman China terhadap Taiwan secara otomatis berkaitan dengan keamanan nasional Jepang, mengingat jarak Taiwan dan pulau Jepang terdekat hanya sekitar 100 kilometer.
Dampak Langsung: Peringatan Perjalanan Massal, Maskapai Mengubah Rute, dan Kekhawatiran di Sektor Wisata
Krisis diplomatik ini segera berdampak pada sektor publik. Tujuh maskapai besar Tiongkok memberikan opsi refund dan perubahan rute gratis bagi penumpang menuju Jepang hingga akhir tahun. Kebijakan ini menciptakan gelombang pembatalan dan kekhawatiran di sektor pariwisata Jepang, terutama karena Hong Kong adalah penyumbang wisatawan terbesar kelima pada 2024 dengan 2,68 juta pengunjung.
Pemerintah Hong Kong menegaskan bahwa wisatawan harus mengikuti setiap perkembangan dari konsulat karena situasi dianggap “dinamis dan dapat memburuk sewaktu-waktu.”
Krisis Taiwan, yang selama ini menjadi isu geopolitik sensitif, kini menelusup langsung ke kehidupan masyarakat sipil di Jepang dan China.
Konfrontasi Makin Kasar: Seruan Persona Non Grata dan Perang Kata-Kata
Partai berkuasa di Jepang bahkan menyerukan agar Konsul Jenderal China di Osaka dinyatakan persona non grata setelah unggahan bernada agresifnya memicu kekisruhan. Sementara itu, Beijing tetap menuntut Takaichi menarik ucapannya, menyebut bahwa Jepang “memainkan api perang.”
Insiden saling panggil diplomat, perang kata-kata, dan tuduhan agresif yang beredar di media sosial membuat krisis ini berubah menjadi salah satu titik konflik paling dipantau di dunia, setara dengan lonjakan ketegangan Laut China Selatan dan isu nuklir Korea Utara.
Mengapa Krisis Taiwan Mengancam Stabilitas Asia Timur?
Krisis Taiwan bukan hanya isu dua negara—melainkan pusat gravitasi geopolitik. Taiwan adalah penghasil semikonduktor utama dunia, berada di jalur pelayaran strategis, dan dekat dengan Okinawa serta kepulauan Jepang lainnya.
Bagi Jepang, konflik di Taiwan berarti ancaman langsung ke garis depan militernya. Bagi China, Taiwan adalah bagian “yang tak terpisahkan dari tanah air.” Ketika Takaichi menyatakan kemungkinan respons militer Jepang, ia menyentuh inti dari konflik terbesar di Asia Timur.
Inilah alasan mengapa komentar tersebut melecut badai diplomatik yang tak hanya menegangkan hubungan dua negara tetapi juga meningkatkan risiko miskalkulasi militer di kawasan.
Kesimpulan: Krisis yang Tidak Menunjukkan Tanda Reda
Ketegangan China–Jepang semakin menjalar ke ekonomi, diplomasi, dan narasi keamanan regional. Dengan Tokyo menolak menarik pernyataan dan Beijing memperluas peringatan perjalanan, Selat Taiwan kembali menjadi titik nyala yang berpotensi memicu perubahan besar dalam keseimbangan kekuatan Asia.
Selama China, Jepang, dan Taiwan tetap pada garis keras masing-masing, dunia harus bersiap menghadapi salah satu krisis geopolitik terbesar yang berpotensi mengubah peta kekuatan global.***










