JAKARTA, Radarjakarta.id – Logistik bukan sekadar jalur distribusi barang. Ia adalah urat nadi perekonomian yang menentukan lancarnya perdagangan, keberlanjutan pasokan, hingga pemerataan pembangunan.
Bagi Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17 ribu pulau,
tantangan logistik adalah pekerjaan besar yang menentukan arah kemajuan bangsa.
Fakta terkini menunjukkan, hingga 2025 biaya logistik Indonesia masih berada di angka 14,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju yang rata-rata di bawah 10%.
Tingginya biaya ini berdampak langsung pada harga barang yang kurang kompetitif, daya saing UMKM yang tertekan, dan terhambatnya efisiensi rantai pasok.
Melihat kondisi tersebut, Fauzan Fadel, B.Eng (Hons), MBA, Pengamat Bisnis dan Praktisi Logistik, menyerukan reformasi logistik nasional yang lebih sistematis, berbasis teknologi, dan berpihak pada keadilan ekonomi.
“Kita harus berani menyatukan kekuatan aset logistik nasional dalam satu ekosistem modern. Reformasi logistik tidak hanya soal efisiensi biaya, tapi juga soal pemerataan akses ekonomi, penguatan UMKM, dan pembangunan yang berkeadilan,” tegasnya saat ditemui di Jakarta, Kamis (31/7/2025).
Enam Terobosan Strategis Fauzan Fadel untuk Reformasi Logistik Nasional
• Platform Logistik Nasional Berbasis 4PL.
Membangun sistem digital terintegrasi Fourth-Party Logistics (4PL) yang menghubungkan transportasi, pergudangan, bea cukai, hingga e-commerce.
Sistem ini harus open API agar bisa diakses startup, UMKM, hingga pelaku lokal, dengan dukungan big data dan AI untuk real-time tracking, prediksi permintaan, dan efisiensi rute.
• Efisiensi Biaya melalui Sinergi Antarmoda.
Mengurangi ketergantungan moda darat dengan mengoptimalkan tol laut, memperluas kereta barang, serta membangun dry port dan hub logistik regional di luar Jawa.
Pemerintah diharapkan memberi insentif untuk perpindahan moda dari darat ke laut atau rel.
• Dashboard Logistik Nasional.
Menerapkan single-window logistics system yang menghubungkan WMS, TMS, pelabuhan, hingga layanan kurir e-commerce. Sehingga waktu tunggu, biaya tersembunyi, dan proses berulang dapat dihilangkan.
• Inovasi Last-Mile Delivery untuk UMKM dan Daerah 3T.
Menghadirkan solusi seperti pickup point terdesentralisasi, locker, smart-routing berbasis AI, kendaraan listrik, dan drone untuk wilayah terpencil, sambil memperkuat peran kurir lokal dan mitra independen.
• Reformasi Regulasi dan Pembentukan Holding Logistik Nasional.
Menyatukan regulasi yang saat ini tersebar di berbagai kementerian dalam Badan Otoritas Logistik Nasional, menyusun roadmap logistik 2030, dan mengonsolidasikan BUMN logistik untuk mendorong efisiensi dan sinergi.
• SDM dan Akademi Logistik Digital.
Mendirikan Akademi Logistik Nasional dengan kurikulum berbasis supply chain modern, sertifikasi profesi, dan pelatihan ekspor-impor yang memanfaatkan teknologi terkini seperti AI dan e-commerce logistics.
Fauzan optimistis, jika enam strategi ini dijalankan dengan serius, maka biaya logistik dapat ditekan, rantai pasok menjadi lebih efisien, UMKM lebih kompetitif, dan pertumbuhan ekonomi akan lebih merata.
“Integrasi sistem nasional akan menjadi game changer. Kita tidak hanya akan menurunkan biaya, tapi juga menciptakan konektivitas yang membuka peluang ekonomi bagi semua lapisan masyarakat, dari kota besar hingga pelosok negeri,” pungkasnya. |Guffe*











