JAKARTA, Radarjakarta.id – Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, melakukan audiensi dengan Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, di Gedung C, Komplek Kantor Kementerian Transmigrasi, Kalibata, Jakarta. Selasa (2/9).
Pertemuan ini membahas pengembangan Kawasan Transmigrasi Palolo dan Lemban Tongoa di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.
Bupati Rizal Intjenae membawa beberapa kepala dinas untuk memaparkan potensi dan tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan dua kawasan transmigrasi tersebut. Salah satu potensi utama yang sudah berkembang dan dapat dimaksimalkan adalah produk unggulan berupa bawang dan kopi.
Beberapa produk UMKM seperti ‘Kopi Sigi Ka Kommi’ dan ‘Bawang Panggang Sigi’ yang sudah beredar di pasar turut dibawa ke Jakarta sebagai bukti kemajuan.
Wamen Viva Yoga menyambut baik perkembangan produk UMKM dari kawasan transmigrasi, khususnya Palolo, yang menjadi andalan Kabupaten Sigi.
Ia menyampaikan bahwa kopi dari Sigi sudah diminati pasar internasional, termasuk Kanada dan China.
Untuk memaksimalkan potensi tersebut, Kementerian Transmigrasi berkomitmen untuk terus bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Sigi dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, baik transmigran maupun masyarakat lokal.
“Kita berdayakan dan kembangkan produk unggulan dari kawasan transmigrasi,” ujar Viva Yoga, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PAN.
Namun, tantangan yang dihadapi transmigran tidak sedikit, terutama terkait status lahan yang tumpang tindih dengan lahan milik Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, BUMN, dan korporasi.
Menanggapi hal ini, Viva Yoga menegaskan bahwa berdasarkan hasil Rapat Kerja Komisi V DPR dengan Kementerian Transmigrasi pada 30 Juni 2025, pemerintah diminta untuk mengeluarkan seluruh kawasan hutan yang berada di kawasan transmigrasi dari status kawasan hutan.
“Dengan dasar hukum ini, legalitas lahan kawasan transmigrasi menjadi lebih kuat,” jelasnya.
Dalam membangun kawasan transmigrasi, Kementerian Transmigrasi tidak dapat bekerja sendiri. Oleh karena itu, kementerian ini melakukan sinergi dengan kementerian terkait seperti Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kesehatan. Viva Yoga mendorong pengembangan berbagai potensi lain di kawasan transmigrasi, seperti durian, kakao, dan hasil pertanian lainnya, selain kopi dan bawang.
Sebagai contoh, Kementerian Transmigrasi telah bersinergi dengan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian untuk mengembangkan budi daya sapi Brasil di Kawasan Transmigrasi Lewa, Nusa Tenggara Timur, dengan investor dari Brasil.
“Model seperti ini akan kami terapkan di kawasan transmigrasi di Sigi untuk komoditas unggulan,” tambahnya.
Pemerintah Kabupaten Sigi juga didorong untuk aktif menarik investor guna meningkatkan produksi kopi. Meskipun lahan cukup luas, produksi kopi saat ini belum mampu memenuhi permintaan dari Kanada dan China karena keterbatasan tenaga kerja.
“Kami ingin kopi dari Sigi bisa diekspor,” harap Viva Yoga, mantan Anggota Komisi IV DPR.
Selain aspek ekonomi, pembangunan kawasan transmigrasi juga mencakup sektor kesehatan. Menanggapi keluhan terkait fasilitas puskesmas di kawasan tersebut, Viva Yoga berjanji akan mengoordinasikan dan menyinergikan penanganannya dengan Kementerian Kesehatan.











