SUKABUMI, Radarjakarta.id – Tangis pecah di sebuah rumah panggung reyot di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Raya, balita perempuan berusia tiga tahun, meregang nyawa dengan tubuh dipenuhi cacing. Kisah pilu ini bukan hanya menyayat hati, tetapi juga menampar wajah pelayanan publik di tingkat desa.
Raya dibawa ke IGD RSUD Syamsudin, Sukabumi, pada 13 Juli 2025 dalam kondisi tak sadarkan diri. Dokter kaget ketika tiba-tiba cacing keluar dari hidung balita itu. Pemeriksaan medis memastikan Raya terserang askariasis akut, infeksi akibat cacing gelang (Ascaris lumbricoides) yang sudah menyebar hingga paru-paru dan otak.
“Pasien datang dalam kondisi syok karena kekurangan cairan. Saat diperiksa, cacing keluar dari hidung. Itu menandakan infeksi sudah sangat parah,” kata dr. Irfan, dokter IGD RSUD Syamsudin, Selasa (19/8/2025).
Meski sempat dirawat intensif di PICU, kondisi Raya tak kunjung membaik. Ribuan cacing bersarang di dalam tubuhnya, keluar melalui hidung dan feses. Setelah sembilan hari berjuang, Raya menghembuskan napas terakhir pada 22 Juli 2025 pukul 14.24 WIB.
Hidup di Kolong Rumah, Diasuh Orang Tua ODGJ
Tragedi ini makin memilukan ketika terungkap kondisi keluarga Raya. Sang ayah, Udin (32), menderita TBC. Ibunya, Endah (38), mengalami gangguan jiwa. Sehari-hari, Raya lebih sering diasuh neneknya, dengan lingkungan yang jauh dari layak.
“Anaknya sering main di kolong rumah panggung bersama ayam dan kotoran. Jarang sekali cuci tangan. Lingkungan seperti itu sangat rawan penyakit cacingan,” ujar Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi.
Rumah keluarga itu berdinding triplek dan kayu lapuk. Lantainya pun pernah habis dibongkar dan dibakar oleh orang tuanya yang ODGJ, sehingga Raya pernah terjatuh ke tanah.
Ironisnya, ketika kondisinya memburuk, Raya tak segera dibawa ke rumah sakit. Baru setelah tim relawan Rumah Teduh turun tangan, ia dibawa menempuh perjalanan dua jam ke RSUD Syamsudin. Namun, sudah terlambat.
Gubernur Jabar Kecewa Berat: “Fungsi Desa Gagal Total!”
Kematian Raya memicu gelombang keprihatinan nasional. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan duka mendalam sekaligus amarah terhadap aparatur desa.
“Saya kecewa dan prihatin. Ini bukti nyata kegagalan fungsi pelayanan dasar di desa. Posyandu tidak berjalan, PKK tidak berjalan, kebidanan pun tidak berjalan,” tegas Dedi melalui akun Instagram pribadinya.
Menurut Dedi, kasus ini seharusnya bisa dicegah jika perangkat desa lebih peka. Ia menilai aparatur lalai dalam mengawasi keluarga rentan seperti Raya.
“Jangan tunggu anak meninggal baru semua ribut. Negara harus hadir sejak awal,” ujarnya.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Dedi mengirim tim untuk menjemput seluruh keluarga Raya. Ayahnya yang menderita TBC kini juga mendapat perawatan.
Tamparan Bagi Bangsa
Kisah tragis ini menjadi pengingat bahwa penyakit cacingan, yang kerap dianggap sepele, bisa berujung maut jika pengawasan kesehatan masyarakat lemah. Kematian Raya bukan hanya tragedi keluarga, melainkan juga tamparan keras bagi negara yang gagal melindungi warganya yang paling rentan.***
Balita di Sukabumi Tewas Tubuh Dipenuhi Cacing, Gubernur Jabar Murka: Aparat Desa Lalai!










