JAKARTA, Radarjakarta.id – Artis dan penyanyi Aurelie Moeremans mengejutkan publik dengan pengakuan pahitnya menjadi korban grooming saat berusia 15 tahun. Kisah traumatis itu dituangkan dalam buku memoirnya, Broken Strings, yang dirilis dengan jujur dan penuh refleksi.
Melalui akun Instagram pribadinya, Aurelie mengungkapkan, “Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku di-grooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku,” tulis Aurelie, Minggu (11/1/2025).
Keputusan Aurelie menulis buku ini mendapat dukungan penuh dari sang suami, Tyler Bigenho. Tyler meyakini cerita tersebut bisa menjadi pelajaran berharga bagi banyak perempuan muda.
Tak hanya itu, Broken Strings kini tengah menarik perhatian industri perfilman. Beberapa rumah produksi dikabarkan tertarik untuk mengangkat kisah hidup Aurelie ke layar lebar, baik dalam format film maupun serial.
Aurelie pun menyambut baik kabar ini. “Aku senang banget kalau suatu hari Broken Strings bisa diadaptasi jadi film atau limited series, biar impact-nya lebih luas. Kira-kira siapa ya sutradara/producer yang paling pas?” tulis Aurelie, dikutip Senin, 12 Januari 2026.
Meski ada ketertarikan dari beberapa rumah produksi, Aurelie belum bisa mengungkapkan nama pihak yang akan mengangkat karyanya karena khawatir memengaruhi proses yang sedang berjalan. “Can’t spill yet… takut jinx it… TAPI AKU EXCITED BANGET, DOAIN LANCAR!” tambahnya.
Dalam postingan lain, Aurelie bercanda soal perhatian besar dari rumah produksi terhadap bukunya: “Apa aku harus cemburu sama buku aku ya? First time in my life sebanyak ini production houses ngejar di waktu yang sama… and it’s not even for me, it’s for Broken Strings,” tulis Aurelie.
Buku ini ditulis Aurelie saat tengah mengandung anak pertama. Kehamilan justru mendorong Aurelie menuangkan pengalaman pahitnya dalam tulisan, yang awalnya dimaksudkan sebagai diary pribadi untuk proses healing.
Berkat dorongan sang suami, ia memberanikan diri mempublikasikan buku tersebut.
Proses penulisan berlangsung cepat. Aurelie menyelesaikan Broken Strings di trimester pertama kehamilan, lalu versi bahasa Inggrisnya keluar pada trimester kedua. Menyambut respons luar biasa dari pembaca, Aurelie menerjemahkan bukunya ke bahasa Indonesia hanya dalam 3–4 hari.
Sejak awal 2026, buku ini sukses menarik perhatian publik. Banyak pembaca memuji kejujuran dan keberanian Aurelie, merasa tersentuh dan menemukan keterkaitan dengan kisahnya. Selain itu, akses gratis yang disediakan membuat buku ini mudah dijangkau warganet, memicu diskusi luas di media sosial dan meningkatkan minat literasi.
Lebih dari sekadar memoir, Broken Strings menjadi pengingat pentingnya kesehatan mental dan keberanian bersuara. Aurelie berharap mereka yang pernah mengalami hal serupa tidak merasa sendiri, serta terdorong untuk mencari pertolongan dan harapan bagi masa depan lebih baik.***











