Asrama UI Gelar Diskusi Sejarah dan Memori Kolektif Anak Muda

Kepala Asrama Universitas Indonesia, Mariyah. (Foto: Ist)
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Asrama Universitas Indonesia menggelar diskusi konten digital sejarah dan memori kolektif generasi muda, yang merupakan hasil kerjasama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama dengan DPD Klub Tempo Doeloe (KTD) DKI Jakarta.

Acara ini membahas bagaimana narasi sejarah telah bertransformasi di ruang digital berbeda dengan narasi cetak era sebelumnya. Bagi Asrama Universitas Indonesia, diskusi kritis tentang konten digital sejarah diharapkan dapat meningkatkan daya nalar mahasiswa UI, terutama yang tinggal di Asrama.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Diharapkan dengan kesadaran soal pentingnya narasi sejarah di ranah digital dalam membentuk memori kolektif , mahasiswa dapat tumbuh sebagai individu yang tidak hanya produktif dan dinamis, namun juga kritis dalam mencerna informasi.

“Melalui diskusi konten digital sejarah ini, diharapkan para mahasiswa generasi muda, terutama para mahasiswa UI yang tinggal di Asrama UI memiliki pemahaman tentang konten sejarah digital di era sekarang,” ujar Mariyah selaku Kepala Asrama Universitas Indonesia (6/12/2025).

Dengan konten sejarah yang unik dan menarik, yang tentunya sesuai dengan fakta sejarah, diharapkan tercipta memori kolektif yang memperkuat identitas dan kesadaran mereka sebagai anak muda produktif dan dinamis yang dapat turut membangun ekosistem gerakan anak muda yang sehat di Asrama.

“Diharapkan, diskusi ini dapat menumbuhkan kesadaran yang membentuk karakter dan nilai-nilai sejarah, budaya dan pengetahuan para mahasiswa UI di asrama,” tambahnya.

Diskusi yang dipandu oleh Aline Anismara yang merupakan Ketua Studi Klub Sejarah UI Terpilih ini membahas soal konten sejarah di era disrupsi informasi, ketika manusia dibentuk pengetahuannya melalui algoritma dan hidup di dalam echo chamber.

Konten sejarah yang memiliki muatan kepentingan tertentu atau muatan informasi yang salah bisa diyakini karena muncul berulang dalam echo chamber. Di sini, para narasumber membahas bagaimana penting bagi generasi muda untuk kritis melakukan verifikasi informasi, terutama yang sesuai dengan metode sejarah.

Dosen Ilmu Sejarah UI yang juga Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Bondan Kanumoyoso menyatakan bahwa konten digital sejarah kini menjadi kanal utama pembentuk memori kolektif generasi muda. Menurutnya, naarasi tentang masa lalu bersaing dengan hiburan, opini, dan algoritma dalam ruang konsumsi informasi yang serba cepat.

Di satu sisi, keterbukaan digital menjadikan sejarah lebih dekat, menarik, mudah diakses; di sisi lain, ritme instan berpotensi menghadirkan penyederhanaan, romantisasi, bahkan distorsi ketika fakta terpotong dari konteks akademiknya.

“Karena itu, tantangan kita bukan menolak ledakan konten sejarah, melainkan mengawalnya melalui riset yang sahih, etika pengemasan, dan perspektif kritis agar memori kolektif tidak dibentuk oleh popularitas semata, tetapi oleh kedalaman pengetahuan,” kata Bondan.

Ketua DPD Klub Tempo Doeloe DKI Jakarta, Agil Kurniadi mengatakan bahwa diskusi ini penting karena membahas fenomena konten kreasi sejarah dalam dunia digital yang menjadi bagian dari konsumsi masyarakat. Dalam hal ini, sejarah bukan hanya sebagai ilmu pengetahuan belaka, tetapi lebih dari itu, sejarah menjadi kisah yang menarik, menghibur, bahkan sebagai alat untuk mendulang popularitas.

“Sangat penting melihat sejauh mana kontribusi sejarah dalam dunia digital, dan bagaimana seharusnya konten sejarah itu dikonsumsi masyarakat agar tetap baik dan tidak menghadirkan penyimpangan. Diharapkan diskusi ini menjadi refleksi bagi siapapun yang memperhatikan isu digital sejarah, guna menilai, bahkan memperbaiki kekurangan yang terjadi dalam fenomena ini,” ujar Agil.

Kemudian, Dosen Ilmu Komunikasi dan Media Universitas Paramadina, Erik Ardiyanto mengatakan bahwa di era pasca kebenaran (posttruth) narasi sejarah telah beralih dari arsip ke algoritma, menciptakan ancaman distorsi memori kolektif yang mendasar.

“Tantang terbesar bukan sekedar hoax, melainan kekerasan epistemik manipulasi fakta masa lalu yang di perkuat oleh AI. Untuk itu, generasi muda harus melawan fragmatasi ini, dengan menjadi produsen narasi sejadah yang kritis dengan mengedepakan kebenaran bukan hanya sensasi,” kata Erik.

Penanggungjawab acara ini, Insan Praditya Anugrah yang merupakan alumni Sejarah Universitas Indonesia sekaligus Pengajar Ilmu Politik dan Pemerintahan di Universitas Terbuka menyatakan bahwa diskusi ini penting sebagai awal kerjasama interdisiplin dalam melihat konten digital dan narasi sejarah di tengah disrupsi informasi aba ke-21. Insan meningkatkan pentingnya penerapan metode sejarah pada konten digital sejarah.

“Manusia berevolusi dari era suku-suku, kemudian berbangsa dan kemudian menciptakan sebuah kesadaran global dengan memori kolektif yang dibentuk dengan metode yang berbeda. Mulai dari tradisi lisan, tradisi tulisan, era kapitalisme cetak, hingga dominasi dari media elektronik analog seperti televisi dan radio, hingga pada era abad ke-21 ini,” ujar Insan.

Menurut Insan, saat ini kita menghadapi era disrupsi informasi di mana new media atau telah mengkonstruksi cara berpikir kita dan menghadirkan konten-konten yang tidak lagi tunduk kepada otoritas tertentu, mulai dari negara bahkan otoritas keilmuan.

“Di sinilah posisi kerja sama interdisiplin antara ilmu sejarah, ilmu komunikasi, dan bahkan mungkin ilmu informasi dan teknologi diperlukan supaya masyarakat dan manusia modern dapat beradaptasi dan menyikapi dengan bijak disrupsi informasi ini, terutama dalam melihat produksi konten digital sejarah yang memuat mengenai memori masa lalu kita,” pungkasnya.

Semula, acara ini diharapkan Kementerian Kebudayaan RI dapat menjangkau mahasiswa sebanyak mungkin, dengan target 100–130 orang, namun ternyata antusiasmenya lebih besar. Tercatat, peserta mencapai 191 orang dan penanya yang hendak merespons membludak.

Diharapkan, acara ini dapat meningkatkan daya kritisisme mahasiswa terhadap konten sejarah digital yang beredar pada sisi mahasiswa. Pada sisi akademia, menjadi tantangan bagi kerja sama antara ilmu sejarah, ilmu komunikasi, dan ilmu-ilmu lainnya untuk berkolaborasi membangun kerja sama interdisiplin supaya memori kolektif masyarakat tetap terjaga berdasarkan kebenaran sejarah tanpa adanya penyimpangan fakta.|Bemby

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.