MALANG, Radarjakarta.id – Dunia sepak bola Indonesia diguncang kabar duka yang datang tiba-tiba dan menyayat hati. Asisten Pelatih Arema FC, Kuncoro, mengembuskan napas terakhirnya usai kolaps di pinggir lapangan Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu (18/1/2026). Peristiwa ini terjadi saat ia masih aktif mengabdikan diri untuk klub yang telah menjadi bagian hidupnya sejak muda.
Detik-detik memilukan itu berlangsung di hadapan banyak saksi. Pada babak kedua sebuah event sepak bola, Kuncoro yang berdiri di sisi lapangan mendadak terjatuh dan tak sadarkan diri.
Suasana stadion yang semula riuh seketika berubah panik. Minimnya tenaga medis di lokasi membuat sejumlah rekan sesama mantan pemain bergerak cepat memberikan pertolongan pertama sebelum tim medis tiba.
Kuncoro segera dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Namun, takdir berkata lain. Sekitar pukul 18.00 WIB, ia dinyatakan wafat. Kabar tersebut menyebar cepat, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, Aremania, dan seluruh insan sepak bola nasional.
Bagi publik Malang, Kuncoro bukan sekadar asisten pelatih. Ia adalah potongan sejarah Arema FC yang hidup. Lahir di Malang pada 7 Maret 1973, Kuncoro memperkuat Arema sebagai pemain pada era 1991–1996. Setelah gantung sepatu, cintanya pada Singo Edan tak pernah pudar.
Sejak 2011, Kuncoro mendedikasikan hidupnya di jajaran kepelatihan Arema FC. Ia menjalani berbagai peran mulai dari pelatih fisik, asisten pelatih utama, hingga caretaker dan pelatih interim di masa-masa genting. Di tengah seringnya pergantian pelatih kepala, Kuncoro adalah figur yang tetap bertahan, menjaga stabilitas ruang ganti dan semangat tim.
Kepercayaan manajemen terhadapnya tak main-main. Ia tercatat pernah mendampingi puluhan pelatih kepala, termasuk nama-nama besar seperti Rahmad Darmawan, Milomir Seslija, Eduardo Almeida, Javier Roca, hingga Joel Cornelli. Saat Arema berada dalam situasi krisis, Kuncoro kerap menjadi penenang dan solusi darurat.
Catatan terakhirnya sebagai pelatih interim terjadi pada musim 2024/2025, Desember 2024 hingga Januari 2025. Meski singkat, kontribusinya mencolok: rata-rata 3 poin per pertandingan dari dua laga statistik yang menegaskan kapasitas dan pemahamannya terhadap karakter Arema FC.
Pemegang Lisensi Kepelatihan A Nasional ini juga dikenal memiliki pendekatan humanis. Ia dekat dengan pemain, rendah hati, dan pekerja keras. Formasi favoritnya, 4-3-3 Defending, mencerminkan gaya berpikirnya: disiplin, seimbang, dan penuh tanggung jawab.
Di mata Aremania, Kuncoro adalah simbol kesetiaan tanpa pamrih. Ia bekerja dalam diam, jarang mencari sorotan, namun perannya begitu besar. Kepergiannya saat masih aktif mendampingi tim membuat luka itu terasa jauh lebih dalam.
Kini, Arema FC tak hanya kehilangan seorang asisten pelatih, tetapi juga penjaga DNA klub, sosok yang memahami Singo Edan bukan dari buku taktik, melainkan dari perjalanan hidup.
Sepak bola Indonesia berduka. Malang berkabung.
Nama Kuncoro akan abadi sebagai legenda sunyi yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk Arema FC.| Daffa*











