Asal-usul Penamaan Beberapa Jalan dan Kawasan di Kota Medan

banner 468x60

“Pasar merah itu, wilayah itu dulu tanahnya merah, bahkan dahulu di situ ada percetakan batu bata yang berkualitas sangat bagus. Tanahnya itu tanah merah tempat itu, karena tempat nya warna merah. Nama itu sepertinya diberikan setelah kedudukan Belanda. Tapi walau sudah berganti, Nma Pasar Merah itu lebih melekat dari nama jalan HM Jonni kini,” ucap Azis.

Kampung Keling/Kampung Madras
Jika mengarah ke Kecamatan Medan Polonia dan Kecamatan Medan Petisah tentunya dikenal dengan nama Kampung Keling atau saat ini disebut dengan Little India. Kawasan ini tentunya sangat dikenal terutama bagi masyarakat kota Medan.

Sejak kedudukan Belanda di Kota Medan wilayah ini dihuni oleh orang-orang keturunan India yang dikirim dari India oleh Belanda sebagai pekerja perkebunan. Belanda menempatkan mereka untuk bermukim di wilayah tersebut.

Bertahun-tahun warga keturunan India ini bermukim di wilayah tersebut. Akibat dari warga keturunan India yang bermukim itu mempunyai kulit berwarna gelap sehingga masyarakat memberikan nama itu menjadi Kampung Keling.

Namun, karena penyebutan nama tersebut terkesan diskriminatif di masyarakat Kota Medan yang mempunyai beragam suku dan budaya. Nama tersebut diubah Pemerintah Kota Medan menjadi Kampung Madras atau Little India.

Jalan Panglima Denai
Selain itu, bagi masyarakat Kota Medan tentunya tidak asing dengan nama Jalan Panglima Denai. Azis menjelaskan bahwa nama Jalan Panglima Denai berawal dari sekitar tahun 1823 yang dahulunya ada sebuah kerajaan bernama Kerajaan Denai yang merdeka dan terdiri dari tiga wilayah, yakni Patumbak, Percut, dan Denai.

“Kerajaan Denai kala itu dipimpin oleh Raja Graha. Kerajaan Denai memiliki benteng yang dijaga tujuh panglima. Saya kira salah satu panglima itu lah sosok Panglima Denai,” ujar Azis.

Bulu Cina dan Klambir Lima
Selain itu ada beberapa nama yang memang tidak sepenuhnya berada di wilayah kota Medan namun berbatasan langsung dengan Kota Medan dan Deli Serdang.

Seperti Bulu Cina dan Klambir Lima tentunya bagi masyarakat Kota Medan dan sekitarnya tidak asing dengan nama tersebut. Kata Bulu Cina diketahui berawal dari sebuah daerah yang dahulunya ditumbuhi oleh bambu kuning.

Azis menjelaskan, awal penamaan tersebut diketahui karena sejak kependudukan Belanda kala itu daerah tersebut sangat banyak ditumbuhi oleh tanaman Bambu Cina.

Namun, kata Bulu Cina dikatakan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara itu telah mengalami pergeseran kata yang awalnya buluh Menjadi bulu. Kata buluh yang berarti bambu.

“Harusnya itu buluh bukan bulu ya. Itu ada pergeseran nama ya. Kemudian itulah digunakan nama akhirnya. Dasarnya buluh yang artinya itu adalah bambu ya, Bambu Cina. Dulu banyak di sana itu, bambu itu warna nya kuning dan kecil kecil. Maka awalnya itulah dikenal dengan Bulu Cina yang telah mengalami pergeseran nama,” ujarnya.

Sama seperti dengan Bulu Cina, wilayah Klambir V ketika itu dikenal dengan tempat yang memiliki pohon kelapa yang banyak. Tidak hanya perkebunan tembakau saja, namun pohon kelapa juga ditanam oleh masyarakat.

Masyarakat di wilayah Klambir Lima, kata Azis, kala itu adalah mayoritas suku Melayu. Mereka menanam pohon kelapa sangat banyak untuk pengolahan bahan masakan dan adat istiadat.

“Terkait dengan Klambir Lima, diambil dari nama pohon di situ ada pohon kelapa banyak tumbuh di sana. Sehingga tidak hanya perkebunan tembakau saja tapi ada pohon kelapa, masyarakat tanam untuk olahan mereka,” terangnya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.