KH Bahauddin perwakilan dari Baznas Bazis DKI Jakarta sekaligus Pengurus Tanfidz PWNU DKI Jakarta menyoroti dampak sosial dan kebutuhan edukasi terkait penurunan muka tanah dan banjir rob di Jakarta. Ia menyebutkan bahwa sebanyak 118 kelurahan di Jakarta Utara terdampak secara signifikan, dan fenomena ini menimbulkan risiko bagi kehidupan masyarakat serta infrastruktur kota.
“Jakarta menghadapi ancaman penurunan muka tanah yang serius, akibat ekstraksi air tanah berlebihan yang dapat mencapai 10 cm per tahun. Fenomena ini sudah berdampak pada 118 kelurahan di Jakarta Utara,” ungkap KH Bahauddin.
Ia juga menekankan peran lembaga keagamaan dalam membantu masyarakat memahami dan menghadapi risiko tersebut.
“Baznas Bazis DKI Jakarta siap bekerja sama dengan LPBI untuk program sosialisasi dan edukasi, agar masyarakat lebih memahami ancaman banjir rob dan langkah-langkah mitigasinya,” tambahnya.
Mohamad Yohan Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta memaparkan sumber-sumber utama banjir di Jakarta dan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangannya. Ia menjelaskan bahwa banjir di Jakarta terjadi karena kombinasi banjir kiriman, banjir rob, dan banjir lokal, yang memerlukan pendekatan terpadu agar mitigasinya efektif.
“Penyebab banjir di Jakarta ada tiga: banjir kiriman, banjir rob, dan banjir lokal. Penanganannya harus kolaboratif melalui konsep pentahelix, yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dan organisasi lingkungan,” jelas Yohan.
Ia menekankan bahwa keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor kunci dalam mengurangi risiko banjir, dan BPBD selalu membuka ruang bagi kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat strategi mitigasi.
“Kami berharap masyarakat dapat bekerja sama dengan BPBD, karena keberhasilan mitigasi banjir hanya bisa dicapai melalui gerakan bersama lintas sektor,” tambahnya.
Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum dalam sesi terakhir, menjelaskan upaya teknis yang dilakukan SDA untuk mengurangi dampak banjir rob, khususnya di kawasan Muara Angke yang mengalami penurunan tanah ekstrem. Ia menekankan pentingnya kombinasi infrastruktur pengendali dan teknologi pemantauan.
“Di Muara Angke, penurunan tanah cukup ekstrem karena kondisi tanah yang lunak. Kami membangun tanggul pengaman pantai, giant sea wall, dan melakukan pembersihan rutin di sekitar lokasi untuk mengurangi efek banjir rob,” jelas Ika.
Selain itu, Ika memperkenalkan inovasi digital yang digunakan untuk mendeteksi dan memantau banjir rob secara real–time.
“SDA mengembangkan platform SINARJI, yang dapat mendeteksi banjir rob secara cepat dan akurat, sehingga langkah mitigasi bisa segera dilakukan,” pungkasnya.|Bemby











