Analisis Multidisiplin Ilmu Haidar Alwi dalam Mendukung Polri Mengungkap Asal Kayu Gelondongan Banjir Sumatra

Haidar Alwi
banner 468x60

Presisi Polri: Ketika Negara Mendengarkan Alam Dengan Kejujuran

Bagi Haidar Alwi, salah satu kekuatan terbesar dalam kejadian ini adalah bagaimana Polri menjaga jarak dari dua kesalahan besar: menuduh tanpa data atau mengabaikan tanpa bukti. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memahami bahwa penyidikan ekologis membutuhkan kesabaran dan kecermatan. Dengan mengerahkan Dittipidter Bareskrim secara cepat dan tepat, Polri menjawab kecemasan publik bukan dengan asumsi, melainkan dengan tindakan ilmiah.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Koordinasi Polri dengan KLHK, BRIN, BNPB, BPBD, TNI, dan pemerintah daerah adalah gambaran ideal bagaimana negara seharusnya bekerja: saling menopang, saling mengisi celah, dan bekerja sebagai satu organisme. Dalam penyidikan seperti ini, presisi bukan hanya metode, tetapi etika negara.

“Presisi adalah cara negara menunjukkan bahwa ia bekerja dengan kejujuran, bukan sekadar kecepatan,” tutur Haidar Alwi. Namun penyidikan tidak berhenti pada menemukan apa yang terjadi. Ia harus membuka pelajaran tentang apa yang harus diperbaiki.

Pelajaran Dari Hulu: Menata Ulang Masa Depan Ruang Hidup Bangsa

Kayu gelondongan yang hanyut adalah indikator bahwa ruang hidup bangsa perlu dibaca ulang. Jika kayu berasal dari tumbang alami, negara harus memperkuat mitigasi dan konservasi hulu. Jika kayu berasal dari tumpukan legal, perusahaan harus menata ulang manajemen risikonya.

Jika kayu dari APL, masyarakat harus diedukasi. Jika dari aktivitas ilegal, jaringan pelakunya harus dihentikan. Jika dari kombinasi semua itu, negara harus memperbaiki sistem dari hulunya, bukan hanya dari hilir.

Pelajaran ekologis dari banjir Sumatra bukan hanya tentang apa yang hilang, tetapi apa yang dapat diperbaiki. Banjir membuka cermin untuk menilai apakah tata ruang telah dijaga, apakah hutan telah dirawat, dan apakah sungai telah dipahami sebagai ruang hidup, bukan sekadar jalur air. Negara yang membaca pelajaran ekologisnya adalah negara yang mampu menata masa depan rakyatnya.

Selama Negara Menjaga Rasa, Alam Tidak Akan Menutup Jalannya

Fenomena kayu gelondongan di Sumatra mengingatkan kita bahwa alam selalu memberi tanda. Yang menjadi persoalan adalah apakah negara mau membaca tanda itu dengan ilmu atau menutupinya dengan asumsi. Dengan pendekatan multidisiplin ilmu yang matang, Polri telah berada di jalur yang benar untuk mengungkap asal-usul kayu dengan presisi, kejujuran, dan rasa hormat kepada ruang hidup bangsa.

“Alam tidak menuntut kita sempurna. Alam hanya menuntut kita jujur. Dan bangsa yang jujur membaca tanda alamnya sendiri adalah bangsa yang tidak akan tersesat,” pungkas Haidar Alwi.|Bemby

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.