JAKARTA, Radarjakarta.id – Ahmad Dhani kembali membuat gebrakan yang sulit diabaikan. Pentolan Dewa 19 itu resmi meluncurkan Dewa 19 Restography Java Rock di kawasan elite Kemang, Jakarta Selatan bukan sekadar restoran, melainkan pernyataan budaya yang memadukan musik rock, sejarah Jawa, dan kemewahan heritage kolonial.
Berlokasi di rumah peninggalan Belanda tahun 1922, bangunan bersejarah ini disulap Dhani menjadi ruang kuliner premium dengan nilai historis tinggi. Tak tanggung-tanggung, hingga Rp10 miliar dikucurkan demi menjaga keaslian arsitektur sekaligus menghidupkan atmosfer klasik yang nyaris punah di Jakarta.
Rumah Kolonial Asli, Bukan Replika
Sejak melangkah masuk, nuansa masa lalu langsung menyergap. Tiang, kusen jendela, hingga lantai bangunan dibiarkan tetap otentik material asli yang bertahan lebih dari satu abad.
“Ini rumah Belanda asli. Tiang, kusen, lantai, semuanya masih sejak 1922,” ungkap Ahmad Dhani saat peresmian di Kemang.
Keputusan mempertahankan elemen asli ini menjadi pembeda kuat dibanding restoran modern lain yang hanya mengandalkan konsep visual tanpa jiwa sejarah.
Raja-Raja Jawa Hadir di Dinding Restoran
Yang membuat Restography Java Rock semakin mencuri perhatian adalah koleksi foto langka Raja-Raja Jawa abad ke-19. Dinding restoran dipenuhi dokumentasi bersejarah dari Kasunanan Surakarta hingga Kesultanan Yogyakarta mulai dari Pakubuwono VIII–XII hingga Hamengkubuwono VI–IX.
Untuk tokoh sebelum era kamera, Dhani menghadirkan lukisan Pakubuwono I (Pangeran Puger), pendiri Dinasti Mataram Islam, sebagai simbol akar sejarah Jawa.
“Fotografi itu sudah ada sejak 1850-an. Ini bukan hiasan, tapi edukasi sejarah,” tegas Dhani.
Lampu Antik Belanda, Tak Ada yang Kembar
Detail menjadi kunci. Seluruh pencahayaan menggunakan lampu antik asli peninggalan Belanda, bukan buatan ulang. Uniknya, setiap lampu diklaim tidak ada yang sama, menjadikan interior restoran ini benar-benar eksklusif.
Renovasi yang dimulai sejak Oktober 2025 hingga Februari 2026 pun dikerjakan dengan sentuhan pribadi. Dhani mengaku turun langsung mengatur dekorasi dan lighting, memastikan atmosfer rock klasik berpadu harmonis dengan nuansa Jawa.
Menu 50:50, Barat dan Nusantara
Dari sisi kuliner, Dhani menyebut restorannya sebagai tempat “paling kalcer” di Jakarta. Menu disusun seimbang: 50 persen hidangan Western dan 50 persen Nusantara, menyasar penikmat fine dining yang tetap ingin merasakan identitas lokal.
Tak hanya makan, pengunjung juga disuguhi kurasi video klip Dewa 19 yang dipilih langsung oleh Dhani. Ia bahkan berani menyebut atmosfer musik di restorannya melampaui Hard Rock Cafe Los Angeles, sumber inspirasi awal konsep ini.
Impian 12 Tahun, Siap Ekspansi
Nama Java Rock bukan ide dadakan.
Konsep ini sudah dipikirkan Dhani sejak 12 tahun lalu, jauh sebelum akhirnya terwujud di Kemang.
Kesuksesan pembukaan perdana ini membuka peluang ekspansi.
Surabaya disebut sebagai target berikutnya, dengan satu syarat mutlak: harus menempati bangunan heritage bersejarah.
Destinasi Baru, Bukan Sekadar Restoran
Grand opening Dewa 19 Restography Java Rock turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, termasuk Fadli Zon, menandai dimulainya perjalanan baru restoran ini dalam ekosistem gaya hidup berbasis musik dan budaya.
“Ini ruang autentik tempat rasa, musik, dan budaya bertemu dalam satu energi,” ujar Leonard
Darmawan, CEO Javarock Dewa 19 Restography.
Dengan konsep yang berani, historis, dan sarat identitas, Dewa 19 Restography Java Rock tak hanya menambah daftar tempat makan di Jakarta, tapi berpotensi menjadi ikon baru kuliner-budaya ibu kota.***











