ACEH TAMIANG, Radarjakarta.id —Derita akibat banjir bandang dan tanah longsor di Aceh semakin memilukan. Ribuan warga kini bertahan hidup tanpa makanan, sementara data BNPB mencatat 753 korban meninggal akibat bencana yang juga melanda Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Di Aceh Tamiang, puluhan ribu warga masih terisolasi dan belum mendapat bantuan logistik.
Irwan, jurnalis Transmedia sekaligus korban banjir, mengungkap kondisi yang mengejutkan. Ia dan warga lain mengaku tidak makan selama 3 hingga 4 hari. “Sampai saat ini kami belum menerima bantuan apa pun. Bukan hanya saya, seluruh warga belum makan,” ujarnya. Dalam kondisi kritis, warga terpaksa mengonsumsi mie instan basah yang terseret banjir.
Tidak hanya makanan, air bersih juga hilang total. Warga terpaksa meminum air banjir yang keruh. “Untuk bertahan hidup, kami panasi air banjir itu lalu diminum bersama keluarga,” ucap Irwan dengan suara berat. Kondisi ini semakin diperburuk dengan padamnya listrik, buruknya akses, dan minimnya koordinasi bantuan.
Di Desa Pahlawan, rumah wartawan Antara, Dede Harison, berubah menjadi tempat evakuasi darurat bagi puluhan warga. Mereka bertahan di lantai dua rumah selama empat hari, meminum air banjir yang disaring kain, bahkan untuk menyeduh susu bayi. “Selama tiga hari, kami hanya makan dua kali sehari dengan mie instan. Itu pun seadanya,” kata Dede.
Para warga menyebut banjir kali ini bencana terbesar sepanjang sejarah Aceh Tamiang, melampaui banjir besar tahun 1996 dan 2006. Rumah-rumah tertutup lumpur hingga setebal 70 sentimeter, sementara hewan ternak banyak ditemukan mati. Di luar, kendaraan penuh sesak memarkir di jalan nasional demi menghindari banjir susulan.
Memasuki hari ketujuh pascabencana, sebagian warga masih bertahan di tempat pengungsian seperti masjid dan sekolah karena rumah belum bisa dihuni. Meski air mulai surut, lumpur tebal menyulitkan akses kendaraan, terutama sepeda motor yang masih belum dapat melintas di sejumlah titik.
Di tengah kondisi ini, warga meminta pemerintah pusat segera turun tangan dan mempercepat penyaluran bantuan. Aceh tidak hanya membutuhkan bantuan logistik, tetapi juga evakuasi, alat berat, air bersih, dan koordinasi nyata. Karena hari ini, di Aceh, jutaan nyawa tidak menunggu berita mereka menunggu pertolongan.***











