ACEH, Radarjakarta.id – Aceh kembali diselimuti duka mendalam. Sosok legendaris yang selama ini nyaris terlupakan publik, Teungku Nyak Sandang, dikabarkan wafat pada usia 100 tahun, Selasa (7/4/2026) siang. Kabar ini sontak mengguncang kesadaran publik tentang jasa besar rakyat kecil dalam membangun negeri.
“Innalillahi wainna ilaihi raji’un.” Sang kakek wafat sekitar pukul 12.00 WIB di kediamannya. Informasi ini disampaikan langsung oleh cucunya, Ataillah. Kepergian Nyak Sandang bukan sekadar kehilangan keluarga, melainkan hilangnya saksi hidup sejarah perjuangan bangsa yang pernah mengorbankan segalanya demi Indonesia.
Jenazah almarhum rencananya dimakamkan di kampung halamannya di Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya. Saat ini, keluarga tengah melaksanakan proses fardu kifayah. Di usia senjanya, Nyak Sandang memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan sempat beberapa kali menjalani perawatan akibat faktor usia.
Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah heroik yang mengguncang sejarah. Pada usia 23 tahun, Nyak Sandang mengambil langkah nekat: menjual kebun miliknya senilai 20 mayam emas demi membantu negara membeli pesawat pertama Republik Indonesia, yakni Seulawah RI-001.
Dana tersebut kemudian digunakan oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, untuk membeli pesawat yang menjadi tonggak awal kedaulatan udara Indonesia. Tanpa pamrih, tanpa sorotan kamera, Nyak Sandang menjadi bukti nyata bahwa kemerdekaan tidak hanya diperjuangkan di medan perang, tetapi juga melalui pengorbanan harta dan jiwa.
Ironisnya, di tengah gegap gempita pembangunan dan kemajuan zaman, nama besar Nyak Sandang justru nyaris tenggelam. Kepergiannya hari ini seakan menjadi tamparan keras: apakah bangsa ini benar-benar menghargai para pahlawan sunyi?
“Ia menjual segalanya untuk Indonesia, tapi Indonesia hampir melupakannya.”
Kini, satu lagi penjaga memori perjuangan telah pergi. Pertanyaannya, apakah kisahnya akan ikut dikubur, atau justru bangkit menjadi pengingat bagi generasi bangsa?|Al Pane*











