MINAB, Radarjakarta.id – Perang yang baru meletus di Timur Tengah langsung memicu tragedi kemanusiaan yang mengguncang dunia. Sebuah sekolah dasar di Iran hancur dihantam rudal pada hari pertama konflik, menewaskan ratusan orang termasuk puluhan anak-anak yang sedang belajar.
Temuan awal penyelidikan militer mengarah pada dugaan bahwa serangan mematikan tersebut berasal dari militer Amerika Serikat. Tragedi ituketika rudal menghantam Sekolah Shajareh Tayyiba di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan.
Data sementara menyebut sedikitnya 168 siswa dan 14 guru tewas dalam ledakan yang meluluhlantakkan bangunan sekolah perempuan tersebut.
Laporan awal investigasi yang pertama kali diungkap media Amerika menyebut serangan kemungkinan terjadi akibat kesalahan informasi intelijen. Militer AS diduga menggunakan data koordinat lama yang menunjukkan lokasi pangkalan militer Iran berada di area yang sama dengan sekolah tersebut.
Target utama serangan sebenarnya adalah fasilitas milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang berada tidak jauh dari sekolah. Namun karena informasi lokasi yang tidak diperbarui, rudal justru menghantam kompleks pendidikan tersebut.
Koordinat serangan disebut disusun oleh Komando Pusat militer Amerika (CENTCOM) berdasarkan data intelijen lama dari Defense Intelligence Agency (DIA).
Sejumlah citra satelit lama memperlihatkan bahwa pada tahun 2013 sekolah dan pangkalan militer memang berada dalam satu kompleks. Namun pada 2016 area itu sudah dipisahkan pagar dan memiliki akses masuk berbeda.
Foto satelit terbaru bahkan menunjukkan halaman sekolah masih dipenuhi anak-anak yang beraktivitas sebelum tragedi terjadi.
Jejak Rudal Tomahawk
Rekaman video yang dianalisis sejumlah pakar persenjataan memperlihatkan amunisi yang konsisten dengan rudal jelajah Tomahawk menghantam area tersebut.
Fragmen rudal yang ditemukan di lokasi juga diduga berasal dari Tomahawk Land Attack Missile (TLAM), senjata jelajah jarak jauh yang diproduksi kontraktor pertahanan Amerika.
Para analis menilai jenis rudal tersebut hanya dimiliki Amerika Serikat dan sejumlah kecil sekutu yang mendapat izin khusus.
Iran sendiri menyatakan tidak memiliki sistem senjata tersebut.
Gedung Putih Bungkam
Presiden Amerika Donald Trump mengaku belum mengetahui secara pasti laporan mengenai kemungkinan keterlibatan militer AS dalam tragedi tersebut.
“Saya tidak tahu tentang itu,” kata Trump singkat ketika ditanya wartawan.
Sebelumnya ia sempat menyebut kemungkinan Iran sendiri yang berada di balik ledakan tersebut. Namun pernyataan itu tidak didukung pejabat pemerintahannya.
Gedung Putih melalui juru bicara menyatakan investigasi masih berlangsung dan belum ada kesimpulan resmi.
Menteri Pertahanan Amerika menegaskan penyelidikan akan dilakukan secara menyeluruh, sambil menekankan bahwa militer AS selalu berupaya menghindari korban sipil.
Iran Sebut Kejahatan Perang
Pemerintah Iran bereaksi keras atas tragedi tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan rudal terhadap sekolah perempuan itu sebagai “kejahatan perang yang tak termaafkan.”
Menurut pernyataan resmi Teheran, pola serangan yang disebut double-tap menyebabkan korban jiwa sangat besar karena ledakan kedua terjadi saat warga mencoba menolong korban pertama.
“Serangan rudal Tomahawk Amerika pada 28 Februari membantai 168 malaikat kecil Iran,” tulis pejabat Iran dalam pernyataan publik.
Iran menuntut pertanggungjawaban internasional terhadap pihak yang meluncurkan serangan tersebut.
Misteri yang Mengguncang Dunia
Tragedi di Minab kini menjadi sorotan global di tengah memanasnya konflik kawasan.
Meski berbagai bukti awal mengarah pada penggunaan rudal Tomahawk milik Amerika, penyelidikan resmi militer AS masih berlangsung dan belum menghasilkan keputusan final.
Sementara itu, dunia menanti jawaban atas satu pertanyaan besar: bagaimana sebuah sekolah yang penuh anak-anak bisa menjadi sasaran rudal perang.***











