JAKARTA, Radarjakarta.id – Berawal dari kegiatan sederhana di lingkungan permukiman, sebuah bazaar dapat menjadi ruang tumbuh bagi usaha rumahan sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Semangat inilah yang terlihat dalam penyelenggaraan Bazaar Makanan dan Minuman RW 04 Tebet Timur, Jakarta Selatan, yang berlangsung di Balai Warga RW 04, Sabtu (17/10/2026).
Tidak sekadar menjadi tempat berburu aneka kuliner, kegiatan tersebut juga menghadirkan kesempatan bagi warga untuk memperkenalkan produk, mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta membangun jejaring konsumen dari lingkungan terdekat.
Memasuki penyelenggaraan kedua, bazaar ini melibatkan warga dari RT 03, RT 04, dan RT 05. Kehadiran pengunjung dan pembeli yang cukup ramai memberikan dorongan bagi para peserta untuk terus mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis komunitas.
Kegiatan yang melibatkan para ibu tersebut menjadi salah satu upaya untuk menghidupkan potensi usaha keluarga. Melalui bazaar, produk makanan dan minuman buatan rumahan dapat dipasarkan secara langsung, sementara warga memiliki kesempatan untuk saling berinteraksi dalam suasana santai, akrab, dan produktif.
Ketua RT 01 RW 04 Tebet Timur, Pak Ahmad, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya bazaar yang dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, kegiatan tersebut membuka ruang bagi warga untuk memasarkan produk sekaligus menghidupkan aktivitas positif di lingkungan tempat tinggal.
Ia berharap bazaar makanan dan minuman dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan sehingga manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat.
“Kegiatan bazaar ini berlangsung untuk yang kedua kalinya. Mudah-mudahan untuk bazaar selanjutnya tetap berlangsung,” ujar Pak Ahmad.
Ia menilai, keberlanjutan kegiatan semacam ini penting untuk menjaga semangat kebersamaan sekaligus memberi kesempatan kepada warga yang ingin memulai atau mengembangkan usaha dari rumah.
Dengan adanya kegiatan yang berlangsung secara berkala, para peserta diharapkan dapat mengenali kebutuhan konsumen, memperbaiki kualitas produk, serta membangun kepercayaan pembeli secara bertahap.
Selain itu, bazaar juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai potensi usaha warga yang selama ini mungkin belum dikenal secara luas.
Komjen Pol (Purn) Drs. H. Suparni Parto Setiono, M.M., yang akrab disapa Pak Parni, menilai bazaar RW 04 Tebet Timur memiliki arti lebih luas daripada sekadar kegiatan jual beli.
Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga, terutama di kalangan ibu-ibu yang selama ini mungkin belum memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi secara langsung.
Ia menjelaskan, kegiatan jalan sehat pada pagi hari di lingkungan tersebut selama ini lebih banyak diikuti kaum bapak. Kondisi itu membuat para peserta relatif lebih mudah saling mengenal. Melalui bazaar, para ibu juga mempunyai ruang untuk membangun kedekatan dan memperluas pergaulan.
“Selama ini yang ikut jalan sehat pagi kebanyakan bapak-bapaknya, sehingga relatif sudah saling mengenal. Nah, melalui kegiatan ini kita jadi tahu ibu-ibunya siapa, sehingga ketika suatu saat ada hal yang membutuhkan kebersamaan, kita sudah saling mengenal,” kata Pak Parni.
Ia mengingatkan bahwa hubungan baik dengan tetangga merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di wilayah perkotaan yang aktivitas warganya cenderung padat.
Kesibukan sehari-hari terkadang membuat interaksi antarwarga menjadi terbatas. Bahkan, orang yang tinggal berdekatan belum tentu mengenal satu sama lain secara dekat.
Karena itu, Pak Parni mengajak warga untuk terus mempertahankan suasana rukun dan akrab yang telah terbangun di RW 04 Tebet Timur.
“Jangan seperti sebagian warga Jakarta lainnya, dengan tetangga sendiri saja tidak mau kenal. Kita patut bersyukur tinggal di RW 04 Tebet Timur yang warganya akrab dan rukun,” tuturnya.
Ia menambahkan, saling mengenal merupakan langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian sosial. Ketika hubungan antarwarga terjalin dengan baik, komunikasi akan lebih mudah dilakukan, termasuk saat menghadapi persoalan atau membutuhkan bantuan.
Menurutnya, lingkungan yang harmonis tidak hanya dibangun melalui aturan dan pengawasan, tetapi juga melalui kebiasaan sederhana seperti menyapa tetangga, menghormati perbedaan, saling menghargai, dan memberikan pertolongan ketika diperlukan.
Dengan demikian, bazaar dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkuat modal sosial masyarakat, sekaligus menjaga lingkungan agar tetap aman, nyaman, dan tenteram.
Selain menekankan pentingnya silaturahmi, Pak Parni melihat bazaar sebagai kesempatan belajar bagi warga yang ingin menekuni dunia usaha.
Menurutnya, berjualan dalam kegiatan lingkungan dapat menjadi pengalaman awal bagi para peserta untuk memahami proses pemasaran, melayani pembeli, menentukan harga, dan mengevaluasi produk yang ditawarkan.
Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk memperluas usaha apabila dikelola secara konsisten dan disertai kemauan untuk terus belajar.
“Kegiatan bazaar ini merupakan proses pelatihan bagi ibu-ibu. Siapa tahu berawal dari sini, usaha mereka bisa berkembang, dikenal luas, bahkan produknya menjadi viral. Dengan begitu, peluang untuk meningkatkan pendapatan tidak hanya terbatas di lingkungan ini, tetapi juga bisa dikembangkan ke wilayah lain di Jakarta,” ungkapnya.
Ia berharap peserta bazaar tidak berhenti pada kegiatan penjualan di lingkungan RW. Para pelaku usaha juga didorong untuk berinovasi, menjaga kualitas produk, serta memanfaatkan berbagai peluang pemasaran yang semakin terbuka.
Pengembangan usaha rumahan dinilai dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian keluarga, terutama bagi warga yang ingin tetap produktif dan memperoleh penghasilan tambahan.
Pak Parni juga menyoroti kondisi sebagian besar warga RW 04 Tebet Timur yang merupakan pensiunan. Menurutnya, kegiatan ekonomi berbasis komunitas dapat menjadi salah satu alternatif aktivitas produktif yang memberi ruang bagi warga untuk terus berkarya.
Ia memotivasi para peserta agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan dalam merintis usaha.
“Yang penting terus bekerja, berbuat, dan mencoba. Jangan takut. Sesuatu yang pada awalnya terasa sulit, jika terus diusahakan, bisa menjadi lebih mudah dan menghasilkan,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi dorongan bagi para peserta agar berani memulai usaha dari skala kecil. Dengan perencanaan yang baik, ketekunan, serta dukungan lingkungan, produk rumahan berpeluang berkembang dan menjangkau konsumen yang lebih luas.
Pak Parni juga menyarankan agar penyelenggaraan bazaar berikutnya menghadirkan pembaruan, baik dalam penyajian produk maupun strategi pemasaran.
Menurutnya, pelaku UMKM perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman apabila ingin memperluas pasar. Produk yang memiliki rasa dan kualitas baik akan semakin menarik apabila didukung tampilan, kemasan, serta promosi yang tepat.
Ia menilai, generasi muda yang akrab dengan teknologi dan tren digital dapat menjadi salah satu segmen pasar yang potensial untuk dijangkau.
“Harapan saya, apa yang disajikan di bazaar ini bisa lebih dimodernisasi karena tuntutan zaman. Kalau hanya untuk lingkungan sekitar mungkin tidak masalah, tetapi jika ingin berkembang lebih jauh, perlu ada pembaruan. Anak-anak zaman sekarang juga dekat dengan berbagai hal yang modern,” katanya.
Peningkatan kualitas kemasan, misalnya, dapat membantu produk terlihat lebih menarik sekaligus memberikan informasi yang jelas kepada konsumen. Sementara itu, pemanfaatan media sosial dapat menjadi pilihan untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli di luar lingkungan RW.
Pelaku usaha juga dapat mulai membangun identitas produk, mempelajari preferensi konsumen, dan memperhatikan konsistensi rasa maupun kualitas.
Meski demikian, inovasi tidak harus selalu dilakukan dengan biaya besar. Pembaruan dapat dimulai dari langkah sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta.
Dengan pendekatan tersebut, bazaar diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi juga menjadi tempat belajar bersama bagi warga yang ingin mengembangkan usaha secara bertahap.
Sementara itu, Ketua Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Tebet Timur, Pak Rizal, mengatakan jumlah pengunjung dan pembeli pada penyelenggaraan bazaar kedua terlihat cukup banyak.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program ibu-ibu PKK Poktan 2. Sebelumnya, bazaar perdana telah diselenggarakan di lokasi yang sama pada pekan sebelumnya.
Melihat respons warga, kegiatan tersebut berpeluang dikembangkan menjadi agenda rutin. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah penyelenggaraan setiap dua minggu sekali, dengan memperhatikan kesiapan peserta dan pengaturan kegiatan di lingkungan RW.
“Kalau kita lihat, pengunjung dan pembeli pada bazaar kedua ini sudah cukup banyak. Minggu lalu juga sudah berlangsung bazaar pertama yang merupakan program ibu-ibu PKK Poktan 2. Ke depan, kegiatan ini mungkin bisa dirutinkan setiap dua minggu sekali,” ujarnya.
Pak Rizal menjelaskan, RW 04 Tebet Timur memiliki 10 RT. Untuk memperluas keterlibatan warga, pihaknya berencana mengatur peserta ke dalam tiga kelompok kerja agar pelaksanaan bazaar dapat dilakukan secara bergiliran dan lebih terorganisasi.
Pembagian kelompok tersebut diharapkan memberikan kesempatan yang lebih merata kepada warga untuk berpartisipasi, baik sebagai penjual maupun dalam mendukung pelaksanaan kegiatan.
Dengan sistem yang terencana, penyelenggaraan bazaar juga diharapkan dapat berlangsung lebih tertib, mulai dari pengaturan tempat, penataan lapak, kebersihan, hingga pengelolaan aktivitas pengunjung.
Pak Rizal menambahkan, kegiatan sederhana di lingkungan RW dapat menjadi langkah awal untuk menyelenggarakan agenda yang lebih besar pada momentum tertentu, seperti peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan berskala besar tersebut dapat melibatkan lebih banyak warga, sedangkan bazaar rutin tetap menjadi wadah bagi peserta untuk memasarkan produk dan membangun basis pelanggan.
Sejalan dengan rencana pengembangan kegiatan, Pak Rizal juga mengungkapkan gagasan untuk memperkenalkan sistem pembayaran digital dalam penyelenggaraan bazaar berikutnya.
Salah satu pilihan yang dipertimbangkan adalah penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), sistem pembayaran menggunakan kode QR yang memungkinkan transaksi dilakukan secara nontunai melalui layanan pembayaran yang mendukungnya.
Menurut Pak Rizal, penggunaan pembayaran digital dapat menjadi bagian dari upaya menyesuaikan bazaar dengan perkembangan kebiasaan transaksi masyarakat.
“Ini merupakan langkah awal. Ke depan, kita akan mengatur bagaimana bazaar ini bisa mengikuti perkembangan digitalisasi. Sekarang sudah banyak masyarakat yang menggunakan QRIS, sehingga hal ini akan kita pikirkan dan segera ditindaklanjuti bersama pihak yang kompeten,” jelasnya.
Rencana tersebut masih memerlukan pembahasan dan tindak lanjut bersama pihak yang memiliki kompetensi di bidang pembayaran digital.
Apabila diterapkan, pembayaran nontunai dapat memberikan alternatif transaksi bagi pembeli sekaligus membantu pedagang melayani konsumen yang terbiasa menggunakan dompet digital atau aplikasi perbankan.
Namun, penerapannya perlu memperhatikan kesiapan peserta, termasuk pemahaman mengenai penggunaan QRIS, kebutuhan setiap pedagang, serta mekanisme pencatatan transaksi.
Pendampingan bagi peserta yang belum terbiasa menggunakan sistem pembayaran digital juga dapat menjadi bagian dari proses pengembangan bazaar.
Dengan demikian, modernisasi tidak hanya menyangkut cara berjualan, tetapi juga peningkatan keterampilan warga dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan ekonomi.
Pak Rizal berharap, masukan dan pengalaman dari setiap penyelenggaraan dapat dijadikan bahan evaluasi agar bazaar berikutnya semakin tertata, menarik, dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
Ia juga menyampaikan bahwa Kelurahan Tebet Timur memiliki 11 RW. Menurutnya, komunikasi dan partisipasi masyarakat perlu terus dijaga untuk mendukung lingkungan yang aman, tertib, dan kondusif.
Terpisah, Ketua RW 04 Tebet Timur, Pak Barizi, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Bazaar Makanan dan Minuman yang melibatkan warga setempat.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membawa keberkahan bagi masyarakat, khususnya warga RW 04 Tebet Timur.
“Semoga kegiatan ini membawa manfaat dan keberkahan bagi semua warga, khususnya di RW 04 ini,” ujar Pak Barizi dalam keterangannya melalui media sosial.
Menurutnya, kegiatan yang mempertemukan warga dalam suasana santai dan produktif dapat memperkuat hubungan sosial serta membangun kebiasaan saling mendukung.
Semakin banyak kesempatan untuk berinteraksi, semakin terbuka pula ruang bagi warga untuk mengenal satu sama lain dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggal.
“Kita makin guyub dan saling mengenal satu sama lain, sehingga terjalin kerukunan dan sikap saling menghormati antarwarga. Dengan begitu, lingkungan yang aman dan tenteram dapat terus terwujud,” tandasnya.
Dukungan pengurus RW tersebut diharapkan dapat memperkuat semangat warga untuk mempertahankan kegiatan positif yang tumbuh dari inisiatif masyarakat.
Keterlibatan pengurus RT, RW, LMK, kelompok PKK, dan warga menjadi unsur penting dalam menjaga kesinambungan kegiatan sekaligus memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara bersama-sama.
Penyelenggaraan Bazaar Makanan dan Minuman RW 04 Tebet Timur memperlihatkan bahwa penguatan ekonomi masyarakat dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Melalui kegiatan sederhana, warga memiliki kesempatan untuk memasarkan produk, mempelajari keterampilan berwirausaha, membangun jejaring konsumen, sekaligus mempererat silaturahmi.
Rencana penyelenggaraan secara berkala, pembagian kelompok peserta, peningkatan kualitas produk, pembaruan kemasan, serta pemanfaatan pembayaran digital menjadi sejumlah peluang yang dapat dikembangkan pada kegiatan berikutnya.
Keberhasilan pengembangan bazaar tentu membutuhkan konsistensi, pengelolaan yang baik, dan keterlibatan warga secara berkelanjutan. Selain itu, evaluasi terhadap produk yang diminati pembeli, pengaturan lokasi, serta kebutuhan para pedagang dapat membantu penyelenggara menentukan langkah pengembangan yang tepat.
Dengan dukungan pengurus lingkungan dan partisipasi aktif masyarakat, bazaar ini diharapkan dapat tumbuh menjadi wadah pemberdayaan UMKM lokal yang berkesinambungan.
Lebih dari sekadar transaksi jual beli, kegiatan tersebut juga membawa pesan bahwa ekonomi keluarga, kepedulian sosial, dan kerukunan warga dapat tumbuh secara beriringan.
Pada akhirnya, keberhasilan Bazaar RW 04 Tebet Timur tidak hanya diukur dari jumlah produk yang terjual, tetapi juga dari terbukanya peluang usaha, bertambahnya pengalaman para peserta, serta semakin kuatnya rasa kebersamaan di tengah masyarakat. | Guffe*










