Membuat Aplikasi dengan AI Kini Hanya dalam Hitungan Jam, Tata Kelola Jadi Tantangan Baru

Head of Management Control System PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), Indra Adi Putra. (Foto: Ist)
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Pengembangan aplikasi internal sederhana secara konvensional yang bisa memakan waktu berminggu-minggu, kini bisa selesai dalam hitungan jam dengan bantuan artificial intelligence (AI).

Namun, kecepatan itu belum selalu diimbangi pengawasan. Aplikasi bisa muncul tanpa sepengetahuan tim teknologi informasi (TI), terdapat juga resiko data perusahaan disalin ke alat AI di luar perusahaan, serta proses berjalan tanpa catatan.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Di Indonesia, survei Kaspersky terbaru mencatat 24% organisasi mengidentifikasi penggunaan alat AI eksternal oleh karyawan sebagai salah satu faktor risiko yang umum.

Secara global, survei MuleSoft 2026 terhadap 1.050 pemimpin TI menemukan rata-rata perusahaan mengelola 957 aplikasi, tetapi hanya 27% yang saling terhubung. Perusahaan juga terikat UU No. 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi, sehingga aplikasi buatan AI yang menyentuh data perusahaan perlu aturan akses yang jelas.

Di panggung Mekari Conference 2026 lalu, Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy Southeast Asia (APAC) OpenAI, menyampaikan bahwa tantangan terbesar adopsi AI di tingkat enterprise bukan lagi sekadar ketersediaan teknologi, melainkan bagaimana menyelaraskannya dengan tata kelola (governance), keamanan data, dan kepatuhan organisasi.

Mekari Officeless menjawabnya dengan lima kemampuan AI yang diperkenalkan di Mekari Conference 2026: Officeless Composer, Officeless Custom UI, Smart Copilot, MCP Officeless, dan Officeless SDK (rincian di lampiran). Prinsipnya, AI tetap boleh mempercepat pembuatan aplikasi, tetapi siapa yang boleh mengakses apa dan siapa yang menyetujui perubahan diatur oleh TI.

Smart Copilot, misalnya, menunjukkan rencana perubahan langkah demi langkah; tidak ada yang berubah tanpa persetujuan pengguna, dan setiap tindakan tercatat. Officeless SDK membuat aplikasi yang dibangun di luar platform, termasuk tampilan buatan AI dari luar, tetap melewati autentikasi, validasi, dan hak akses yang sama.

“AI dapat mendorong proses pembuatan aplikasi menjadi lebih produktif dan efisien. Yang kini langka adalah tata kelolanya, siapa boleh mengakses data apa, dengan persetujuan siapa, dan apa bukti auditnya. Dengan lapisan AI ini, tim bisnis bisa bergerak secepat AI, sementara TI tetap memegang kendali. Kecepatan dan kepatuhan tidak perlu dikorbankan salah satunya,” ujar Samiaji Adisasmito, Head of Business, Mekari Officeless.

Bagi tim bisnis, artinya tidak perlu menunggu antrian TI untuk aplikasi internal, dan rencananya sudah disepakati bersama TI dan Kepatuhan sebelum dibangun lewat Officeless Composer. Bagi TI, seluruh aplikasi buatan AI terhubung ke satu platform yang aktivitasnya bisa dilihat.

Mekari Officeless dapat bekerja berdampingan dengan sistem yang sudah dipakai perusahaan. Pengguna masuk melalui Mekari Account, dan Mekari Officeless terhubung dengan data produk Mekari lewat Mekari Data Connection. Alur kerja juga dapat dipicu dari Mekari Qontak. Perusahaan yang sudah memakai sistem ERP dapat memperluas kapabilitasnya tanpa mengganti sistem yang ada.

Saat ini, Mekari Officeless telah digunakan oleh berbagai perusahaan mulai dari industri pertambangan dan operasional lapangan, pengadaan (procurement), hingga jasa keuangan dan perbankan (BFSI). Salah satu pelanggan Mekari Officeless adalah JNE, perusahaan enterprise yang bergerak di bidang distribusi, pengiriman, dan jasa, termasuk untuk e-commerce, dengan lebih dari 8.000 gerai dan agen di Indonesia serta lebih dari 50.000 karyawan.

Setelah beralih ke Mekari Officeless, waktu pembuatan invoice B2B di JNE dengan jutaan Airway Bill (AWB) per invoice setelah mendapat persetujuan pelanggan berkurang dari 7 sampai 10 hari menjadi 3 sampai 5 hari, atau sekitar dua kali lebih cepat.

Indra Adi Putra, Head of Management Control System, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), menjelaskan alasan perusahaannya beralih ke Mekari Officeless. Menurutnya, JNE melayani wilayah yang sangat luas dengan ratusan variasi harga, kami membutuhkan produk yang highly customizable dan mampu menampung banyak data.

“Maka dari itu, kami beralih ke Mekari Officeless. Di JNE, dari satu marketplace saja, transaksi dalam satu periode bisa mencapai 6 sampai 7 juta AWB. Sebelumnya, setelah mendapat approval dari customer, proses pembuatan invoice-nya saja bisa memakan waktu 7 sampai 10 hari. Kini, kami sudah bisa menerbitkan invoice dalam waktu 3 sampai 5 hari. Bisa dikatakan, sistem ini menyediakan apa yang kami butuhkan,” kata Indra.

Mekari telah terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta memiliki sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 dan ISO/IEC 27701:2025.

“Ke depan, kami akan terus mengembangkan lapisan AI ini untuk perusahaan enterprise, termasuk di industri yang diatur ketat, karena di sana kecepatan AI dan kendali TI sama-sama dibutuhkan. Bagi perusahaan yang ingin memulai, kami menyarankan satu proses yang paling memakan waktu, dengan aturan akses dan persetujuan yang jelas sejak hari pertama, lalu diperluas bersama tim bisnis dan TI,” tutup Samiaji.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.