JAKARTA, Radarjakarta.id — Kaukus Muda Anti Korupsi (KAMAKSI) mendorong Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya mempercepat transformasi pasar rakyat di DKI Jakarta. Ketua Umum KAMAKSI, Joko Priyoski, menegaskan modernisasi harus meningkatkan pelayanan kepada pedagang dan konsumen, memperkuat transparansi pengelolaan aset, serta menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok. Dorongan tersebut menjadi perhatian pada Rabu (14/10/2026), seiring agenda revitalisasi pasar dan digitalisasi yang berlangsung sepanjang 2026.
Joko menilai besarnya potensi ekonomi pasar Jakarta harus diimbangi dengan tata kelola perusahaan yang profesional dan terukur. Berdasarkan keterangan Pemprov DKI Jakarta pada 23 Februari 2026, Jakarta memiliki 153 pasar dengan sekitar 286 ribu pelaku UMKM dan nilai transaksi ekonomi lebih dari Rp150 triliun per tahun. Menurut KAMAKSI, Perumda Pasar Jaya perlu membuka informasi mengenai target dan realisasi program, penggunaan anggaran, kualitas pelayanan, serta dampak kebijakan terhadap kesejahteraan pedagang.
“Transformasi pasar tidak cukup hanya membangun gedung dan menerapkan pembayaran digital. Keberhasilannya harus dirasakan langsung melalui pasar yang bersih, aman, harga yang terpantau, transaksi yang mudah, dan perlindungan terhadap pedagang kecil,” ujar Joko Priyoski. KAMAKSI juga menyoroti target digitalisasi 110 pasar hingga akhir 2026, sebagaimana diberitakan sejumlah media pada 8 April 2026. Program tersebut, menurut KAMAKSI, perlu disertai pendampingan pedagang, keamanan transaksi, keterbukaan biaya layanan, serta laporan perkembangan yang dapat diperiksa masyarakat.
Pada sektor infrastruktur, Pemprov DKI Jakarta mengumumkan revitalisasi Pasar Gardu Asem di Kemayoran dan pembangunan Pasar Kramat Jaya di Cilincing pada 6 April 2026, dengan target penyelesaian pada 2027. Rencana revitalisasi Pasar Sunter Podomoro juga diberitakan RRI pada 31 Agustus 2026. KAMAKSI meminta Perumda Pasar Jaya memastikan ketepatan waktu, kualitas pekerjaan, transparansi pengadaan, serta perlindungan pedagang selama proses pembangunan. Evaluasi, kata Joko, harus mencakup fungsi fasilitas setelah proyek selesai, bukan sekadar tampilan bangunan.
Penguatan ketahanan pangan juga menjadi perhatian KAMAKSI. Perumda Pasar Jaya didorong memperkuat koordinasi dengan Pemprov DKI Jakarta, instansi terkait, BUMD pangan, dan daerah produsen untuk menjaga kelancaran distribusi serta mengantisipasi gejolak harga. Upaya tersebut perlu mendukung strategi pengendalian inflasi daerah melalui keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. KAMAKSI meminta hasil program pangan dievaluasi berdasarkan ketersediaan barang, jangkauan penerima manfaat, dan kemampuan masyarakat membeli kebutuhan pokok.
Selain itu, kebersihan dan pengelolaan sampah harus menjadi indikator penting kinerja perusahaan. Pada 1 April 2026, Pemprov DKI Jakarta melaporkan penanganan timbunan sampah di Pasar Induk Kramat Jati melalui penyewaan 20 truk setelah volume sampah dilaporkan mencapai sekitar 6.970 ton. Data tersebut menggambarkan kondisi pada periode pemberitaan dan bukan konfirmasi situasi terkini. KAMAKSI meminta manajemen Pasar Jaya menyampaikan tindak lanjut penanganan, memperkuat sistem pengangkutan, serta memastikan sanitasi dan pemeliharaan fasilitas berjalan konsisten.
KAMAKSI selanjutnya mendorong evaluasi terbuka terhadap kinerja direksi Perumda Pasar Jaya, termasuk realisasi revitalisasi, capaian digitalisasi, biaya operasional, kondisi aset, pengelolaan sampah, serta kontribusi terhadap stabilitas pangan. Pemprov DKI Jakarta sebagai pemilik BUMD, manajemen Perumda Pasar Jaya, instansi pengawasan terkait, dan pemangku kepentingan pasar perlu memastikan setiap program berjalan sesuai aturan dan memberikan manfaat nyata. “Pengawasan publik bukan untuk menghambat perusahaan, melainkan memastikan sumber daya daerah dikelola secara akuntabel. Ukuran keberhasilan Pasar Jaya adalah pelayanan yang semakin baik, pedagang yang terlindungi, lingkungan yang bersih, dan kebutuhan pangan yang terjangkau,” tutup Joko Priyoski.|ZDN*











