SUMBA BARAT, Radarjakarta.id – Kekayaan sejarah, budaya, dan ritual adat-istiadat merupakan salah satu daya tarik utama dalam pengembangan pariwisata Sumba Barat. Sebagai upaya dalam mewujudnyatakan potensi tersebut, Tim Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (Pengmas) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI di bawah koordinasi DPIS UI bersama dengan Dinas Pariwisata Sumba Barat, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah Sumba Barat dan Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade, mendiskusikan peluang event pariwisata tahunan berbasis budaya dan mengangkat desa-desa yang ada di Sumba Barat pada 30 September 2026.
Dalam diskusi ini dibicarakan tiga desa yang memiliki satu akar budaya, yakni Desa Rua, Desa Weimangoma, dan Desa Hobawawi, dari kecamatan Wanokaka, yang kebetulan juga menjadi lokasi beberapa hotel berkelas internasional seperti Nihi Resort, Hotel Lelewatu, Morika Villa, Bobocabin Sumba, Rua Beach Resort dan lain sebagainya.
Tiga desa ini memiliki satu akar budaya dengan Kampung Kadoku sebagai pusatnya, untuk ritual tahunan seperti bulan Pamali (Wulla Poddu) dan Pasola. Berbagai kegiatan adat di ketiga desa tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sumba, yang berakar dari kepercayaan Marapu, kepada masyarakat serta menarik wisatawan sehingga meningkatkan perekonomian lokal.
“Kita adalah salah satu kabupaten di NTT ini yang masih mempertahankan nilai-nilai asli budaya Sumba. Di daerah sini, banyak nilai-nilai budaya yang mesti kita kembangkan karena anak-cucu kita nanti belum tentu tahu terkait kepercayaan Marapu yang sudah diakui di Republik ini,” ujar Bupati Sumba Barat, Kamis (1/10/2026).
Ketua Dinas Pariwisata Sumba Barat, Semuel Dato Mesa menambahkan bahwa terdapat pengadaan event tersebut dapat memberdayakan budaya di kalangan anak muda. Dengan tujuan tersebut, anak muda diharapkan dapat mengenal dan memahami sejara adat-istiadat yang telah berlangsung begitu lama dan menjadi identitas dari Sumba Barat.
Meski demikian, penyelenggaraan event tahunan ini juga membawa sejumlah tantangan, khususnya keterbatasan anggaran daerah, baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat desa. Kondisi tersebut mendorong gagasan agar pengembangan event dimulai dari skala kecil dan tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah daerah.
Penyelenggaraan event secara Pentahelix, yang melibatkan pemerintah, akademis, pelaku usaha, komunitas, dan publikasi media juga menjadi salah satu strategi perwujudan pelestarian budaya berkelanjutan ini.
“Sejatinya event ini akan lebih bermakna apabila dikembangkan bersama oleh masyarakat di ketiga desa dan didukung oleh pemerintah, komunitas budaya, serta pelaku industri pariwisata,” tutur Suma Riella Rusdiarti, Anggota Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia.
Dari rangkaian pembahasan tersebut, Tim Pengmas FIB UI yang diketuai Diah Kartini Lasman, M.Hum., bersama Dr. Hendra Kaprisma, S.Hum, Dr. Suma Riella Rusdiarti, Annisa Julia Zhapira Firdaus, serta Livania Cleopatra Angelica Harianja lanjut mendiskusikan konsep serta teknis acara bersama dengan Dinas Pariwisata Sumba Barat.
Lokasi yang menjadi perhatian untuk puncak pengadaan event adalah Pantai Rua, yang menjadi bagian penting dari ritual adat Kampung Kadoku, sebagai nenek moyang dari tiga desa penyelenggara.
Salah satu kunci suksesnya penyelanggaraan event adalah publikasi yang luas. Sejalan dengan hal tersebut, Sekretaris Dinas Pariwisata, Annisa Umar Bamualim memperkenalkan tagar khas Sumba Barat yakni #LandofSpirit.
“Kami menggunakan tagar #LandofSpirit karena dua makna yang ada di dalamnya. Spirit yang berarti semangat yang merujuk pada semangat masyarakat Sumba dan Spirit sebagai roh yang berkaitan dengan adat Marapu”,ujar Annisa.
Event ini diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga memperkuat budaya, membuka ruang kreativitas bagi generasi muda, serta memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat setempat.
Bagi Tim Pengmas FIB UI, proses ini menjadi kelanjutan dari kegiatan Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat yang telah dilakukan selama tiga tahun terakhir di Sumba Barat sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.











