BENGKULU, Radarjakarta.id — Jasad pria tanpa identitas yang ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, akhirnya teridentifikasi sebagai Surakman atau Sukarman (60), kru kapal Arupadhatu 1 yang hilang bersama lima jurnalis di perairan Selat Sunda. Identifikasi tersebut diketahui setelah hasil pencocokan DNA menunjukkan kesesuaian dengan data keluarga Surakman. Informasi ini dilaporkan pada Rabu, 23 September 2026.
Surakman merupakan anak buah kapal (ABK) Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026. Kelima jurnalis tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudistiro Pranoto, Firdaus Wajidi, dan Donal Husni. Selain Surakman, dua kru lainnya yang ikut dalam rombongan adalah Warta sebagai kapten kapal dan Heriyanto sebagai pemandu.
Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, sekitar pukul 14.00 WIB dengan tujuan kawasan Gunung Anak Krakatau. Kapal kemudian dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda. Komunikasi terakhir tercatat sekitar pukul 18.13 WIB ketika rombongan berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Jasad Surakman sebelumnya ditemukan pada Sabtu, 12 September 2026, di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano. Karena kondisi jenazah tidak memungkinkan dilakukan identifikasi secara visual, jasad tersebut dievakuasi ke RS Bhayangkara Polda Bengkulu pada Senin, 14 September 2026, untuk menjalani autopsi dan pemeriksaan identifikasi oleh tim DVI bersama Pusdokkes Polri.
Sebelumnya, polisi memang melakukan pencocokan DNA jenazah dengan data keluarga delapan orang yang hilang dalam pelayaran Arupadhatu 1. Pada 15–16 September 2026, hasil pemeriksaan tersebut masih belum terkonfirmasi dan jenazah belum dapat dipastikan sebagai bagian dari rombongan. Hasil terbaru pada 23 September kemudian menunjukkan kecocokan DNA dengan Surakman atau Sukarman.
Temuan ini menjadi perkembangan terbaru setelah operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal dihentikan pada Kamis, 17 September 2026, setelah berlangsung selama 10 hari. Tim SAR gabungan sebelumnya telah menyisir wilayah perairan Banten, Lampung hingga sekitar Bengkulu, namun belum menemukan kapal Arupadhatu 1 maupun seluruh penumpangnya.
Dengan teridentifikasinya Surakman, proses penanganan jenazah selanjutnya menjadi bagian dari koordinasi kepolisian dan pihak terkait. Sementara itu, informasi mengenai lima jurnalis serta dua kru kapal lainnya yang masih belum ditemukan tetap perlu merujuk pada keterangan resmi aparat dan tim SAR untuk menghindari kesimpulan yang belum terverifikasi.|Atik IKWI*











