ANTONIUS BENNY SUSETYO: ‘Paskibraka Harus Aktif Menjaga Kemajemukan dalam Menggunakan Media Sosial’

banner 468x60

Radarjakarta.id | JAKARTA – Dalam Era Digital Sekat Sekat budaya Makin terbuka, informasi, budaya dan ideology tersampaikan dengan cepat dan hampir tanpa filter hal ini membuat ruang publik khususnya Media sosial menjadi padat dan penuh dengan informasi yang tak jarang membuat para penggunanya khususnya generasi muda tersesat dalam hal hal yang tidak hanya tidak sesuai dengan nilai nilai Pancasila namun juga dalam perkembangannya dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,dan bahkan menimbulkan kerugian baik secara personal,kelompok bahkan negara. Karena Hal tersebutlah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) melalui Kedeputian Pendidikan dan Pelatihan pada Selasa 5 September 2023 mengadakan kegiatan Pembelajaran Aktif Pembinaan Ideologi Pancasila Bagi Paskibraka Tahun 2023 Provinsi Kalimantan Tengah di Kota Palangkaraya. Kegiatan ini menyasar para Paskibraka se-Provinsi Kalimantan Tengah yang diharapkan dapat menjadi duta dan garda terdepan dalam upaya pembumian dan penanaman kembali nilai nilai Pancasila khususnya kepada generasi muda ,dalam upaya menghadapi tantangan yang timbul dalam Era Digital di Media Sosial seperti sekarang ini.

Dalam Acara yang dihadiri secara luring oleh 58 orang anggota Paskibraka Se-Provinsi Kalimantan Ini Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo yang bertindak sebagai narasumber menyatakan bahwa Paskibraka merupakan representasi dari perwakilan kaum muda Indonesia dengan latar belakang yang beragam dan karenanya para Pasukan Pengibar Bendera yang terpilih hendaknya dapat terus berperan aktif menjadi contoh nyata pengaktualisasian nyata Nilai nilai Pancasila dalam kehidupan sehari hari khususnya dalam era media sosial dan digital seperti sekarang ini.

Dalam era digital, internet dan media sosial memiliki nilai dan bagian luar biasa dalam kehidupan manusia , keberadaannya yang tidak mengenal ruang dan waktu membuat masyarakat tak sadar makin tergantung kepada Internet, Masyarakat terjebak dalam Hyper Reality yaitu realitas yang dilebih lebihkan akibat konten konten yang disajikan oleh para influencer dan konten creator yang menyajikan perilaku berlebihan terkait kemewahan ,kesedihan ataupun hal hal yang menantang bahaya. akibat hal tersebut terjadi pergeseran nilai di masyarakat , sekarang masyarakat lebih mementingkan kepopuleran, kuantitas mengenai berapa like,view dan share yang menyebabkan terjadinya penyalahgunaan media sosial yang cenderung mengedepankan sensasi,konten nirfaedah dan berita bohong , hal ini menyebabkan narasi negatif seperti penghinaan terhadap Identitas yang berbeda, bullying,hedonisme dan narasi pecah belah yang memancing keributan dan pertikaian di media sosial menjadi mengemuka dan trending topic . hal ini sejalan dengan perumpamaan Plato tentang manusia yang masuk gua besar dan meraba raba, kebenaran di era digital ini cenderung mengedepankan persepsi, bukan kesadaran kritis dalam mengolah informasi.

Untuk selanjutnya Pakar Komunikasi politik ini menyatakan ruang publik seharusnya menjadi ruang dialog multi arah bukan sekedar tempat bermonolog para individualis yang tidak menghargai perasaan orang lain dan nilai nilai yang berkembang dalam Masyarakat .Karenanya diharapkan para Paskibraka harus tampil dalam upaya menjadikan ruang milik kita bersama ini kembali menjadi ruang terbuka yang santun , ruang nyata yang aman dan nyaman yang menghargai dan menghormati keberagaman serta ruang berpancasila tempat seluruh lapisan masyarakat bisa berbagi nilai nilai persatuan dan kesatuan yang merupakan jiwa Indonesia.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.