Satpam MBG Jadi Korban Begal Brutal, Peluru Belum Dicabut

banner 468x60

Medan, RadarJakarta.id – Nasib pilu dialami Guntur Sugoro (41), seorang petugas keamanan atau satpam di salah satu Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Medan. Setelah menjadi korban percobaan perampokan bersenjata, ia kini harus menahan rasa sakit luar biasa akibat peluru yang masih bersarang di tubuhnya selama sembilan hari terakhir.

Guntur saat ini menjalani perawatan di RSUD Dr Pirngadi Medan dengan kondisi lemah. Tubuhnya tampak kurus, hanya mengenakan sarung kotak-kotak sambil terbaring di ranjang rumah sakit. Selang infus masih terpasang di tangan kirinya, sementara bagian punggung dekat ketiak kanan tertutup perban putih tebal.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Di balik perban tersebut, terdapat peluru yang hingga kini belum berhasil diangkat dari tubuhnya. Peluru diduga berasal dari senapan angin yang digunakan pelaku begal saat menyerangnya.

Peristiwa berdarah itu terjadi pada Senin malam, 11 Mei 2026 sekitar pukul 23.30 WIB. Saat itu Guntur sedang mengendarai sepeda motor menuju rumah rekannya di kawasan Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

Namun ketika melintas di jalan yang sepi, ia tiba-tiba dipepet dan dihentikan oleh dua sepeda motor yang ditumpangi sekitar lima orang pria bersenjata tajam.

“Pas masuk jalan tumbukan, saya langsung dipepet dua kereta. Ada sekitar lima orang. Mereka nyuruh saya berhenti. Tapi saya yakin itu begal,” ujar Guntur saat ditemui wartawan, Selasa (19/5/2026).

Merasa nyawanya terancam, Guntur memilih melarikan diri dengan memacu sepeda motornya lebih cepat. Tindakannya itu rupanya membuat para pelaku emosi dan langsung melakukan penyerangan brutal.

“Saya langsung dibacok dari belakang,” katanya.

Meski mengalami luka bacok di bagian punggung, Guntur tetap berusaha mempertahankan kendaraannya dan terus melaju. Para pelaku yang melihat korban belum terjatuh kemudian diduga memutuskan menggunakan senjata api jenis senapan angin.

“Mereka bilang, ‘Eh, enggak kenapa-kenapa dia bang, tembak dia bang,’” tutur Guntur menirukan ucapan pelaku.

Tak lama setelah itu, terdengar letusan senapan. Peluru kemudian menembus punggung belakangnya dan hingga kini masih bersarang di antara tulang rusuk.

Dalam kondisi terluka parah, Guntur tetap berusaha menyelamatkan diri. Ia terus memacu sepeda motornya hingga akhirnya berhasil lolos dari kejaran kawanan begal tersebut.

Peluru Belum Bisa Dioperasi Karena Terkendala Biaya

Sembilan hari pascakejadian, kondisi Guntur belum menunjukkan pemulihan berarti. Ia masih merasakan sesak napas dan kesulitan bergerak akibat peluru yang belum diangkat dari tubuhnya.

Ironisnya, keterbatasan biaya membuat operasi pengangkatan peluru belum dapat dilakukan. Guntur mengaku tidak memiliki dana untuk membayar tindakan medis tersebut.

Ia mengatakan baru bekerja sekitar dua bulan sebagai satpam di dapur MBG dengan penghasilan yang pas-pasan. Sejak menjadi korban pembegalan, ia juga sudah tidak dapat bekerja selama hampir sepuluh hari.

“Saya penjaga MBG, baru kerja sekitar dua bulan. Pelurunya belum diambil, cuma diperban saja. BPJS juga tidak berlaku untuk kasus ini,” ungkapnya lirih.

Saat ini, Guntur tengah mengurus surat keterangan tidak mampu agar bisa memperoleh bantuan biaya pengobatan maupun keringanan administrasi rumah sakit.

Kondisi yang dialaminya memantik simpati banyak pihak. Guntur berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah, aparat terkait, maupun para dermawan agar dirinya bisa segera menjalani operasi dan pulih kembali.

“Saya cuma berharap bisa cepat sembuh dan pelurunya segera diangkat,” tutupnya penuh harap.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.