Aparat TNI – Polri bersenjata berat tampak mengawal pematokan batas tapal hutan di Kecamatan Galang untuk pabrik kaca terbesar didunia (Warga galang)
Radarjakarta.id | BATAM – Suasana mencekam merayapi masyarakat kecamatan Galang, menjalar seperti angin beku yang menyebarkan ketidakpastian.
Bayangan gelap yang mengintai seakan menambah ketegangan yang kian dalam.
Dalam ketegangan yang merasuk dan semakin memukat, isu penggusuran berbuntut ketidakpastian semakin mendalam.
Aparat bersenjata yang mengenakan beban berat muncul seperti penunggu di balik kabut, menjaga patok-patok batas hutan yang seakan penuh teka-teki.
Foto yang memperlihatkan dua pria aparat membawa senjata berat di area kecamatan Galang.
Dengan suara gemetar, seorang warga setempat memberikan laporan yang sarat akan kepahitan, “Ketika kami melintas, pandangan kami diawasi oleh sejumlah aparat bersenjata yang tak terkalahkan, dengan dinginnya menjaga patok-patok tanah yang menandai batas hutan untuk pembangunan pabrik.”
Seperti kebisuan itu mengandung rahasia-rahasia kelam yang tersembunyi, masyarakat merasakan detak adrenalin yang menyertai ketidakpastian.
Rencana mengejutkan untuk mengembangkan Pulau Rempang, terletak di kecamatan Galang, telah menjadi panggung perdebatan yang membara.
Seperti ombak ganas yang tak pernah padam, rencana pemerintah untuk membangun pabrik kaca terbesar kedua di dunia melalui PT Makmur Elok Graha (MEG) memicu ledakan protes dan penolakan keras dari masyarakat Melayu setempat.
Dengan tegas, mereka menolak untuk meninggalkan kampung halaman yang telah menjadi warisan nenek moyang mereka selama berabad-abad.
Meski upaya awak media untuk mendapatkan tanggapan informasi dari Kadiv Humas Polri Irjen Pol Sandi Nugraha belum membuahkan hasil serta Kapuspen TNI Laksamana Muda Julius Widjojono menjawab,”Satuan mana dia,”
Kapuspen TNI juga meminta tanyakan ke Dandim 0316/Batam Letnan Kolonel Inf Galih Bramantyo,”Coba tanya dia,”singkatnya.
Masyarakat tetap dalam keraguan yang semakin meresap, seperti hembusan angin kencang yang tak henti.
Dalam ketidakpastian yang terus merayap seperti ancaman tak terlihat, nasib Pulau Rempang menggantung di ujung tanduk, seolah-olah melayang dalam ketidakjelasan yang membelenggu. | Red*











