LOMBOK UTARA, Radarjakarta.id – Jagat media sosial mendadak gempar. Sebuah video memperlihatkan seorang perempuan warga negara asing (WNA) mengamuk saat warga menggelar tadarusan malam pertama Ramadan di Dusun Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
Peristiwa yang terjadi di kawasan wisata dunia Gili Trawangan itu memicu perdebatan panas di berbagai platform digital. Dalam rekaman yang beredar luas, perempuan tersebut terlihat berteriak di depan musala saat warga tengah mengaji menggunakan pengeras suara.
Tersulut Suara Speaker Tadarusan
Kepala Dusun Gili Trawangan, Muhammad Husni, menjelaskan bahwa WNA tersebut merasa terganggu oleh suara tadarusan yang diputar melalui speaker.
“Yang dia permasalahkan itu kegiatan tadarusannya, karena dia terganggu oleh suara speaker itu,” ujar Husni.
Menurut keterangan warga, perempuan itu awalnya memprotes dari luar. Namun situasi memanas ketika ia tiba-tiba masuk ke dalam musala dan berupaya menghentikan kegiatan ibadah.
Masuk Musala dan Rusak Mikrofon
Tak hanya melontarkan protes keras, WNA tersebut disebut merusak mikrofon yang digunakan untuk tadarusan. Aksi itu memicu adu mulut dengan sejumlah warga yang mencoba menenangkan situasi.
“Dia langsung marah-marah dan merusak mikrofon,” ungkap Husni.
Kericuhan pun tak terhindarkan. Dalam insiden tersebut, seorang warga mengalami luka cakaran. Bahkan seorang tokoh masyarakat yang berada di lokasi dilaporkan sempat terjatuh saat berusaha melerai.
Situasi yang awalnya khusyuk berubah tegang dalam hitungan menit.
Sempat Bawa Ponsel Warga
Setelah keributan mereda, perempuan tersebut kembali ke vila tempatnya menginap yang berjarak sekitar 50 meter dari musala. Warga juga menyebut ia sempat membawa ponsel milik salah satu warga tanpa penjelasan yang jelas.
Hingga kini, peristiwa tersebut masih menjadi sorotan publik. Banyak warganet menilai insiden ini bukan sekadar persoalan kebisingan, melainkan menyangkut sensitivitas budaya dan penghormatan terhadap tradisi ibadah di bulan suci.
Sorotan Toleransi di Kawasan Wisata
Sebagai destinasi internasional yang ramai wisatawan mancanegara, Gili Trawangan dikenal dengan kehidupan pariwisatanya yang dinamis. Namun insiden ini membuka diskusi lebih luas tentang batas toleransi, aturan kebisingan, serta pentingnya saling menghormati antara pendatang dan masyarakat lokal terlebih pada momentum sakral seperti Ramadan.
Peristiwa WNA ngamuk saat tadarusan di Gili Trawangan ini kini menjadi salah satu topik paling banyak diperbincangkan, memperlihatkan bagaimana satu insiden lokal bisa berubah menjadi gelombang nasional dalam hitungan jam.| Regina*











