Virus Nipah Mengintai, Ahli Ingatkan Indonesia Perkuat Kewaspadaan Dini

Virus Nipah Mengintai, Ahli Ingatkan Indonesia Perkuat Kewaspadaan Dini
Virus Nipah Mengintai, Ahli Ingatkan Indonesia Perkuat Kewaspadaan Dini
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Ancaman virus menular berbahaya kembali menjadi perhatian dunia. World Health Organization (WHO) memasukkan Virus Nipah dalam daftar penyakit prioritas karena potensi wabahnya yang cepat dan tingkat kematian yang tinggi.

Dr. Jusuf Kristianto, MPH, PhD, ahli kesehatan masyarakat, mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh lengah meski belum ada laporan kasus pada manusia. Penelitian menunjukkan virus ini beredar pada populasi kelelawar buah di sejumlah wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Virus Nipah memiliki fatalitas 40–75 persen. Ini bukan angka kecil. Kewaspadaan harus dibangun sejak dini,” ujarnya kepada Radarjakarta.id pada Kamis, 19 Februari 2026 di Politeknik Kesehatan Jakarta 1, Jakarta Selatan.

Berawal dari Hewan, Bisa Menular Antar Manusia

Virus Nipah adalah penyakit zoonotik yang ditularkan dari hewan ke manusia. Pembawanya terutama kelelawar buah (Pteropus spp.), namun penularan juga bisa terjadi melalui babi yang terinfeksi.

Yang mengkhawatirkan, virus ini juga dapat menular antar manusia melalui cairan tubuh seperti droplet, darah, dan urine, terutama dalam perawatan pasien tanpa perlindungan memadai.

Kasus pertama kali tercatat pada 1998 di Malaysia, dan sejak itu wabah sporadis muncul di Bangladesh dan India.

Gejala Mirip Flu, Dampak Bisa Fatal

Infeksi awal sering kali menyerupai flu biasa: demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Namun dalam hitungan hari, kondisi dapat memburuk menjadi gangguan saraf serius.

Penderita dapat mengalami radang otak (ensefalitis), kebingungan, kejang, hingga koma. Gangguan pernapasan berat juga menjadi komplikasi yang kerap berujung pada kematian.

“Banyak kasus awalnya terlihat ringan, tetapi perkembangan penyakitnya sangat cepat,” jelas Dr. Jusuf.

Belum Ada Obat Spesifik

Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun terapi khusus untuk Virus Nipah. Penanganan medis hanya bersifat suportif, yakni menjaga fungsi vital dan mengurangi gejala.

Karena itu, pencegahan menjadi strategi utama. Masyarakat diimbau untuk:

  • Menghindari konsumsi buah yang tidak dicuci bersih.
  • Tidak meminum nira mentah yang berisiko terkontaminasi kelelawar.
  • Menghindari kontak dengan hewan liar atau ternak yang sakit.
  • Menerapkan kebersihan tangan dan penggunaan alat pelindung saat merawat orang sakit.

Kesiapsiagaan Jadi Kunci

Menurut Dr. Jusuf, edukasi publik harus digencarkan agar masyarakat memahami risiko tanpa menimbulkan kepanikan.

“Waspada itu perlu, panik tidak. Dengan perilaku hidup bersih dan sistem surveilans yang kuat, risiko bisa ditekan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pengawasan penyakit berbasis hewan (One Health approach), mengingat sumber penularan berasal dari interaksi manusia dan satwa.

Virus Nipah mungkin belum menjadi wabah di Indonesia, namun ancamannya nyata. Di era mobilitas global, kesiapan sistem kesehatan dan kesadaran masyarakat menjadi pertahanan pertama agar penyakit mematikan ini tidak menemukan celah untuk menyebar.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.