Presiden Interim Peru Jose Jeri Dimakzulkan, Baru 4 Bulan Menjabat

banner 468x60

PERU, Radarjakarta.id – Kongres Peru resmi memakzulkan Presiden interim Jose Jeri pada Selasa (18/2/2026) waktu setempat. Keputusan ini diambil setelah mayoritas anggota parlemen menyetujui mosi pemberhentian terhadap kepala negara yang baru menjabat sekitar 4 bulan tersebut.

Dalam sidang pleno, 75 anggota Kongres menyatakan setuju terhadap pemakzulan, sementara sebagian lainnya menolak atau abstain. Dengan hasil itu, Jeri menjadi presiden ketujuh Peru dalam kurun satu dekade terakhir yang lengser di tengah masa jabatan akibat persoalan hukum dan politik.

Berawal dari Sejumlah Tuduhan

Pemakzulan dipicu oleh serangkaian tuduhan, termasuk dugaan penyalahgunaan jabatan, praktik perekrutan yang tidak wajar di lingkungan pemerintahan, serta dugaan keterlibatan dalam pertemuan tidak resmi dengan pengusaha asing yang memiliki kepentingan bisnis di Peru.

Jeri membantah seluruh tuduhan tersebut dan menyatakan tidak melakukan pelanggaran hukum. Ia menegaskan bahwa pertemuan yang dipersoalkan tidak berkaitan dengan pemberian fasilitas atau keuntungan tertentu.

Proses hukum terhadap dugaan tersebut masih berjalan dan pihak kejaksaan menyatakan akan melanjutkan penyelidikan.

Rantai Krisis Kepemimpinan

Sebelum menjabat sebagai presiden interim, Jeri merupakan Ketua Kongres. Ia naik menggantikan Dina Boluarte yang sebelumnya juga diberhentikan melalui mekanisme serupa.

Boluarte sendiri mengambil alih kepemimpinan dari Pedro Castillo pada Desember 2022, setelah Castillo dimakzulkan dan kemudian diproses secara hukum.

Dalam beberapa tahun terakhir, Peru kerap menghadapi pergantian presiden yang cepat akibat penggunaan pasal “ketidakmampuan moral”, sebuah mekanisme konstitusional yang memungkinkan Kongres memberhentikan presiden.

Selain itu, sejumlah mantan presiden juga tersangkut perkara hukum. 

Martin Vizcarra, yang menjabat pada 2018–2020, sebelumnya dijatuhi hukuman penjara dalam kasus korupsi proyek pemerintah.

Menuju Pemilu April

Pemakzulan Jeri terjadi kurang dari dua bulan sebelum pemilihan presiden yang dijadwalkan pada 12 April 2026. Jika tidak ada kandidat yang memperoleh lebih dari 50 persen suara, pemungutan suara putaran kedua akan digelar pada Juni.

Sejumlah tokoh politik telah menyatakan kesiapan maju dalam pemilu, termasuk Rafael López Aliaga, yang dalam beberapa survei disebut sebagai salah satu kandidat terkuat.

Kongres dijadwalkan memilih ketua parlemen baru, yang secara konstitusional akan merangkap sebagai presiden interim hingga pelantikan presiden hasil pemilu pada Juli mendatang.

Tantangan Stabilitas Nasional

Di tengah dinamika politik tersebut, Peru juga menghadapi tantangan sosial dan keamanan, termasuk meningkatnya kasus pemerasan dan kejahatan terorganisir sepanjang 2025. Kondisi ini menambah beban pemerintahan transisi dalam menjaga stabilitas menjelang pemilu.

Pemakzulan Jose Jeri kembali menegaskan rapuhnya stabilitas politik Peru dalam satu dekade terakhir. Publik kini menaruh harapan pada proses pemilu mendatang sebagai momentum untuk menghadirkan kepemimpinan yang lebih stabil dan dipercaya.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.