Jembatan Urat Nadi Warga Panipahan Amblas, Teluk Pulai Terancam Terisolasi Total

banner 468x60

ROKAN HILIR, Radarjakarta.id – Bencana infrastruktur kembali menghantui wilayah pesisir Riau. Jembatan lintas Teluk Pulai–Panipahan, satu-satunya akses darat masyarakat Kecamatan Pasir Limau Kapas, amblas pada Sabtu sore (17/2/2026). Insiden ini sontak memicu kepanikan dan gelombang keluhan warga, baik di lapangan maupun di media sosial.

Jembatan yang membentang di atas anak Sungai Teluk Pulai tersebut selama ini menjadi urat nadi penghubung Kepenghuluan Teluk Pulai dengan Panipahan, ibu kota kecamatan. Amblasnya struktur jembatan membuat arus transportasi lumpuh total dan berpotensi mengisolasi ribuan warga.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Satu-Satunya Jalur Darat, Kini Lumpuh

Warga setempat menegaskan, jalur tersebut bukan sekadar infrastruktur biasa, melainkan satu-satunya akses darat untuk aktivitas vital masyarakat mulai dari sekolah, ekonomi, hingga layanan kesehatan.

“Ini jalan hidup kami. Kalau jembatan ini putus lama, Teluk Pulai bisa benar-benar terisolasi,” ujar Edi (36), warga Teluk Pulai.

Menurutnya, jembatan dengan konstruksi semenisasi itu ambruk akibat abrasi gelombang laut yang terus menggerus fondasi, ditambah usia bangunan yang sudah tua dan minim perawatan.

“Usianya sudah lama. Abrasi makin parah. Ini bukan jembatan kecil, ini urat nadi masyarakat,” tegasnya.

Anak Sekolah hingga Ekonomi Terancam

Dampak amblasnya jembatan ini langsung dirasakan warga. Aktivitas pendidikan terancam terhenti, distribusi kebutuhan pokok terganggu, dan roda ekonomi melambat drastis.

“Kalau tidak cepat diperbaiki, anak-anak sekolah bagaimana? Kami mau cari nafkah lewat mana?” keluh Edi.

Keluhan senada disuarakan warga lain yang khawatir kondisi ini akan berlarut-larut tanpa kepastian penanganan dari pemerintah daerah.

Viral di Media Sosial, Warga Tagih Tanggung Jawab

Peristiwa ini juga ramai diperbincangkan di Google Search, Instagram, TikTok, Facebook, hingga X (Twitter). Sejumlah unggahan video dan foto kondisi jembatan yang amblas memperlihatkan kerusakan serius dan arus air yang terus menggerus bagian bawah jembatan.

Di kolom komentar, warganet mempertanyakan fungsi pengawasan infrastruktur, serta mendesak Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir dan instansi terkait untuk segera turun tangan.

“Jangan tunggu viral baru diperbaiki,” tulis salah satu akun Facebook. “Ini akses satu-satunya, bukan proyek kecil,” komentar warganet di TikTok.

Gotong Royong Warga, Tapi Tak Bisa Selamanya

Sumber lain yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, masyarakat Teluk Pulai selama ini terbiasa bergotong royong jika terjadi kerusakan jalan atau jembatan. Bahkan, beberapa akses darurat pernah dibangun secara swadaya.

Ia mencontohkan Jembatan Titi Payung di Jalan Bakti Panipahan yang sempat diperbaiki lewat donasi pengusaha asal Panipahan yang merantau ke luar daerah.

“Kalau rusak, warga biasanya gotong royong. Kadang dibantu pengusaha Panipahan yang sukses di luar,” ujarnya.

Namun, ia menegaskan, kerusakan jembatan utama seperti Teluk Pulai–Panipahan tidak bisa diselesaikan dengan swadaya semata.

Desakan Keras ke Pemerintah Daerah ini, harapan warga tertuju pada respons cepat dan konkret pemerintah daerah. Warga meminta tidak hanya perbaikan darurat, tetapi pembangunan ulang yang kokoh dan tahan abrasi, mengingat posisi jembatan berada di wilayah pesisir.
“Jangan sampai ini jadi cerita tahunan. Infrastruktur rakyat jangan dikorbankan,” tegas salah satu tokoh masyarakat.

Amblasnya jembatan Teluk Pulai–Panipahan menjadi peringatan keras bahwa infrastruktur dasar di wilayah terpencil membutuhkan perhatian serius, bukan sekadar janji.
Jika tak segera ditangani, Teluk Pulai bukan hanya terisolasi secara geografis, tetapi juga tertinggal secara sosial dan ekonomi.|Santi Sinaga*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.