ACEH, Radarjakarta.id – Enam pekan setelah banjir bandang menerjang Aceh, sisa bencana yang semula dianggap tak berguna justru berubah menjadi sorotan nasional. Lumpur yang menutup sungai, sawah, dan permukiman kini dilirik pihak swasta. Fakta ini diungkap Presiden Prabowo Subianto usai menerima laporan dari kepala daerah setempat tentang ketertarikan investor terhadap material pascabanjir tersebut.
Presiden menyatakan pemerintah daerah dipersilakan memanfaatkan peluang itu jika dinilai menguntungkan masyarakat. Penjualan lumpur, menurutnya, bisa menjadi sumber dana untuk normalisasi sungai dan pemulihan lingkungan. Pernyataan tersebut langsung memantik perdebatan publik, terutama ketika dikaitkan dengan potensi kandungan mineral bernilai ekonomi.
Di media sosial, isu berkembang lebih panas. Sejumlah unggahan menyebut lumpur banjir Aceh diduga mengandung emas. Narasi itu diperkuat video lumpur berwarna kekuningan yang tampak berkilau, serta klaim bahwa material tersebut berasal dari kawasan tambang di hulu sungai. Isu ini pun viral dan memicu spekulasi luas.
Dari sisi ilmiah, dosen dan peneliti sumber daya mineral Universitas Gadjah Mada, Lucas Donny Setijadji, menyebut Aceh memang berada di wilayah yang kaya potensi emas. Secara geologis, aliran banjir dari Pegunungan Bukit Barisan sangat mungkin membawa endapan mineral, termasuk emas aluvial, ke wilayah hilir.
Namun, Lucas menegaskan potensi tidak bisa disamakan dengan kepastian. Emas memiliki massa jenis tinggi sehingga bisa tertinggal saat material lain hanyut, tetapi memastikan kandungannya wajib melalui uji laboratorium terakreditasi.
Tanpa pembuktian ilmiah, klaim emas di balik lumpur berisiko menyesatkan masyarakat.
Cerita lapangan ikut menyulut perhatian. Di Gampong Seuradeuk, Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat, warga mengaku menemukan butiran berkilau saat membersihkan rumah pascabanjir.
Mereka menyaring lumpur dengan alat sederhana, dan aktivitas itu terekam video yang kemudian viral di media sosial.
Di tengah euforia temuan tersebut, muncul pula kegelisahan.
Warganet mengingatkan agar isu ini tidak berujung pada klaim sepihak atau pengambilalihan oleh negara dan pihak tertentu. Bagi warga terdampak, lumpur bukan sekadar material, melainkan simbol penderitaan dan perjuangan bangkit dari bencana.
Kini, lumpur Aceh berada di persimpangan makna: antara sisa kehancuran dan potensi ekonomi. Pemerintah dituntut berhati-hati, memastikan setiap langkah berbasis sains, transparan, dan berpihak pada rakyat. Sebab di balik isu emas yang mengilap, ada luka kemanusiaan yang tak boleh ditambang demi keuntungan semata.|Budi Pakecos*











