SIDOARJO, Radarjakarta.id – Nama Maria Eva pernah identik dengan dunia hiburan dan sorotan publik. Namun, seiring waktu, mantan artis tersebut memilih arah hidup yang berbeda. Ia menepi dari gemerlap popularitas dan meneguhkan perjalanan hijrah melalui pendalaman spiritual yang dijalani secara konsisten.
Pada Desember 2025, Maria Eva kembali menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci. Perjalanan ibadah yang berlangsung pada 12–20 Desember itu menjadi bagian dari proses perenungan panjang yang ia jalani, bukan sekadar ritual keagamaan. Sebelumnya, ia sempat melakukan perjalanan singkat ke China sebelum memusatkan diri sepenuhnya pada rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan.
Umroh kali ini melengkapi perjalanan spiritual Maria Eva yang telah dimulai sejak lama. Ia tercatat telah menunaikan ibadah haji pada 2004 dan hampir setiap tahun kembali ke Tanah Suci untuk berumroh. Konsistensi tersebut menunjukkan komitmennya dalam memperdalam keimanan dari waktu ke waktu.
Perjalanan spiritual itu semakin bermakna karena Maria Eva didampingi putri tercintanya, Audrey Nataniela Putri. Kebersamaan ibu dan anak tersebut menjadi simbol kuat ikatan batin dalam satu tujuan, yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan hati yang lapang.
Maria Eva menegaskan bahwa hijrah tidak dapat dimaknai secara sederhana. Menurutnya, hijrah bukan hanya perubahan fisik, melainkan proses peningkatan kualitas ibadah dan spiritual secara menyeluruh.
“Hakikat hijrah adalah perubahan menuju kondisi yang lebih baik dalam keyakinan, pikiran, perasaan, dan akhlak demi meraih ridha Allah SWT,” ujarnya.
Ia menambahkan, hijrah merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap manusia yang berakal dan menginginkan kebaikan di masa depan. “Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi upaya memperbaiki kualitas keimanan dan amal saleh dari dalam diri,” tuturnya.
Bagi Maria Eva, ibadah umroh bukan sekadar perjalanan lintas negara, melainkan perjalanan kembali ke dalam diri. Ia memaknai umroh sebagai proses menemukan ketenangan batin dan kejujuran hati.
Keputusan Maria Eva meninggalkan dunia hiburan bukanlah hal mudah. Dunia tersebut menawarkan kenyamanan dan pengakuan, namun ia memilih keteduhan iman dan makna hidup yang lebih dalam. Pilihan itu menjadi bentuk keberanian dalam menata ulang tujuan hidup.
Selain memperdalam spiritualitas, Maria Eva kini menjalani kehidupan yang lebih bersahabat dengan alam. Ia mengelola kebun kopi seluas beberapa hektare di kawasan Kawah Ijen, Bondowoso. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari transformasi hidupnya menuju kesederhanaan dan keseimbangan antara raga dan jiwa.
Sepulang dari Tanah Suci, kediaman Maria Eva kerap dikunjungi kerabat dan sahabat untuk bersilaturahmi. Mereka mengapresiasi perubahan sikap dan cara pandangnya yang dinilai semakin matang.
“Perubahannya bukan hanya tampak dari luar, tetapi benar-benar terasa dalam sikap dan pemikirannya,” ujar salah satu sahabat dekatnya.
Kisah Maria Eva menjadi refleksi bahwa kebahagiaan tidak selalu berada di puncak popularitas. Dalam kesederhanaan, keteduhan iman, dan kedekatan dengan alam, ia menemukan arti hidup yang lebih utuh.| Bagus Wirawiri*











