CIKARANG, Radarjakarta.id – Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2025 meledak dengan kejutan besar! Akhmad Munir, sosok yang dikenal sebagai Direktur Utama LKBN ANTARA, resmi nahkodai PWI Pusat periode 2025–2030 setelah mengalahkan petahana Hendry Ch. Bangun.
Drama pemilihan berlangsung panas di Gedung BPPTIK Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Cikarang, Jawa Barat. Dari 87 suara sah yang diperebutkan, Munir berhasil meraup 52 suara, jauh meninggalkan Hendry yang hanya mengantongi 35 suara.
Tak berhenti di situ, perebutan kursi Ketua Dewan Kehormatan PWI juga berlangsung menegangkan. Mantan Ketua Umum PWI, Atal S. Depari, sukses comeback dengan meraih 44 suara, hanya unggul dua poin tipis dari rivalnya, Sihono, yang mengantongi 42 suara.
Janji Munir: Rekonsiliasi, Konsolidasi, dan Akhiri Dualisme PWI
Dalam pidato kemenangannya, Munir yang akrab disapa Cak Munir lantang menyatakan tekadnya untuk menyatukan kembali PWI yang sempat terpecah.
“Bismillah, saya maju untuk membawa PWI bersatu kembali, melakukan rekonsiliasi, sekaligus konsolidasi organisasi, terutama memperkuat PWI di daerah,” tegasnya.
Cak Munir bukan orang baru di kancah organisasi wartawan. Pernah menjabat Ketua PWI Jawa Timur dua periode serta Ketua Bidang Daerah PWI Pusat, ia menegaskan bahwa wartawan daerah adalah ujung tombak kehidupan pers nasional.
Program ambisiusnya sudah disiapkan:
• Konsolidasi total pasca dualisme PWI.
• Ekosistem pers digital untuk memperkuat media nasional dan lokal.
• Uji Kompetensi Wartawan massal, pelatihan berjenjang, workshop digital, hingga literasi AI.
• Digitalisasi kelembagaan PWI agar lebih adaptif menghadapi era teknologi.
Kongres PWI Disiarkan Live, Publik Jadi Saksi Sejarah
Kongres yang disiarkan langsung lewat live streaming itu sukses menarik perhatian publik. Kehadiran perwakilan dari 39 provinsi, termasuk Papua Barat, memperlihatkan soliditas organisasi wartawan tertua di Indonesia.
Terpilihnya Akhmad Munir diyakini menjadi momentum baru bagi dunia pers tanah air: mengembalikan marwah PWI, memperkuat profesionalisme wartawan, sekaligus menghadapi gempuran tantangan era digital.
Kini publik menunggu, apakah Cak Munir mampu membuktikan janji besarnya? Atau perebutan kursi ini justru membuka babak baru pertarungan di tubuh PWI?***










